Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ekonom BRI (BBRI): BI Bakal Naikkan Suku Bunga pada Agustus 2022

Peningkatan inflasi inti dan depresiasi rupiah diperkirakan menjadi pemicu bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku buunganya pada Agustus mendatang.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 29 Juli 2022  |  15:42 WIB
Ekonom BRI (BBRI): BI Bakal Naikkan Suku Bunga pada Agustus 2022
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Chief Economist BRI Anton Hendranata menilai Bank Indonesia (BI) akan mulai menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus mendatang.

Menurut Anton, hal ini dipicu oleh level nilai rupiah yang kini berada di kisaran Rp15.000 terhadap dolar Amerika Serikat dan tingkat inflasi inti yang diperkirakan merangkak naik hingga 2,82 persen year-on-year (yoy) pada Juli 2022, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan demand masyarakat.

“Inflasi CPI [consumer price index] juga diperkirakan dapat meningkat hingga 4,89 persen yoy, sejalan dengan masih terganggunya pasokan suplai bahan pangan akibat cuaca yang tidak menentu, utamanya pada cabai dan bawang,” ujarnya, Jumat (29/7/2022).

Sebagaimana diketahui, di tengah tren kenaikan suku bunga, bank sentral Indonesia masih menjaga BI7DRR di level 3,50 persen pada RDG Juli 2022. Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang masih terkendali di tengah risiko dampak perlambatan ekonomi global.

Anton menuturkan dari sisi inflasi, tingkat inflasi CPI Indonesia secara umum memang meningkat cukup signifikan menjadi sebesar 4,35 persen yoy pada Juni 2022. Namun, nilai inflasi inti nasional masih cukup terjaga dan stabil di level 2,63 persen yoy.

“Hal itu mengimplikasikan kenaikan inflasi Indonesia saat ini bukan didorong oleh faktor demand melainkan faktor suplai akibat kenaikan harga komoditas pangan,” ujarnya.  

Dari sisi nilai eksternal, walaupun saat ini nilai tukar rupiah sedang mengalami tren depresiasi terhadap USD, Anton menyatakan bahwa nilainya masih relatif rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara berkembang lainnya.

Per 22 Juli 2022, rupiah hanya terdepresiasi sebesar -5,09 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata depresiasi nilai tukar emerging market lainnya sebesar 8 persen.

Oleh sebab itu, Anton menilai kondisi ini membuat BI masih memiliki ruang untuk bisa menjaga tingkat suku bunga acuannya di level 3,50 persen, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional.

“Dengan berbagai pertimbangan tersebut, kami pikir cukup masuk akal jika BI masih menahan suku bunga acuannya di RDG Juli 2022. Namun demikian, ke depan rasanya BI akan mulai menaikkan suku bunganya pada RDG Agustus 2022,” kata Anton. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan Bank Indonesia Inflasi dolar as
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top