Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Mini Makin Agresif Cari Nasabah Prioritas

KBMI I berebut kue untuk menjaring nasabah prioritas demi menghasilkan DPK yang berkualitas seakan terdorong dari data distribusi yang disampaikan oleh LPS.
Bank Mini Makin Agresif Cari Nasabah Prioritas / Ilustrasi
Bank Mini Makin Agresif Cari Nasabah Prioritas / Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Tak mau kalah dengan bank jumbo, sejumlah bank bermodal mini alias KBMI I berebut kue untuk menjaring nasabah prioritas demi menghasilkan dana pihak ketiga (DPK) yang berkualitas.

Agresivitas ini seakan terdorong dari data distribusi yang disampaikan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Meski, sejauh ini nasabah dengan nilai simpanan di bawah Rp100 juta masih memimpin pertumbuhan di angka tujuh persen dalam jumlah rekening.

Akan tetapi, nasabah dengan kategori nilai simpanan mulai dari Rp2 miliar hingga di atas Rp5 miliar tak kalah pesatnya, tercatat laju pertumbuhan rekening sebesar 5,6 persen per Juli 2023 secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sehingga, dengan kesempatan ini, bank-bank KBMI I berusaha keras adu strategi guna menarik perhatian segmen nasabah ini.

Executive Director Segara Research Institute Piter Abdullah mengungkapkan bahwa penjaringan nasabah prioritas oleh bank KBMI I adalah suatu yang lazim. Pasalnya, bank dengan kategori ini telah lama menerapkan kebijakan nasabah prioritas.

“Dari dulu mereka [bank KBMI I] sudah menerapkan kebijakan nasabah prioritas tetapi tidak terprogram kan secara formal. Kalau sekarang dijadikan program formal tentunya didasarkan atas keyakinan pengelola bank bahwa program tersebut akan bisa meningkatkan dan menjaga likuiditas bank terutama dari DPK,” ucapnya pada Bisnis, Rabu (20/9/2023).

Menurut Piter, dengan DPK dan likuiditas yang lebih baik bank KBMI I diharapkan dapat membukukan kinerja bank secara keseluruhan dengan lebih baik.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengungkapkan jika menilik ke belakang, dulu KBMI I dan KBMI II memang kerap menghadapi keterbatasan dalam menjual produk dan menjaring nasabah. 

Namun, saat ini kondisinya berbeda, di mana telah diberikan lebih banyak ruang dalam kapasitas bisnis mereka.

“Tidak hanya sekedar current account saving account (CASA), tetapi juga deposito dan giro dari sisi orang yang memang secara umum di masyarakat adalah golongan orang menengah ke atas. Tinggal bagaimana mereka beradu strategi untuk menetapkan pricing kredit untuk segmen ini,” ujarnya pada Bisnis, Rabu (20/9/2023).

Tentu, ucapan Amin bukanlah tanpa alasan, karena nasabah di tingkat menengah ke atas ini cenderung memiliki harapan tinggi terkait dengan pengembalian investasi mereka. Bahkan, istilah "petani bunga" acapkali sering disematkan untuk mereka para nasabah.

“Orang di level priority ini uangnya banyak, bisa disebar di mana-mana, Mereka berpikir investasi itu harus “don't put all your eggs in one basket”, artinya kalau secara risiko harus disebar kalau bisa dijaring bagus,” katanya.

PT Bank JTrust (BCIC) misalnya yang terus berupaya mendapatkan funding yang lebih stabil, sehingga diperkuat dengan upaya meningkatkan jumlah nasabah prioritas dengan menerbitkan program-program deposito dengan nominal besar seperti Rp1 miliar, Rp3 miliar dan Rp5 miliar.

Direktur Bisnis Bank JTrust Widjaja Hendra mengatakan dengan program yang menarik dia optimis dapat menyasar segmen ini.

“Beruntungnya, produk kita banyak ragamnya, keuntungan Bank JTrust punya produk dan layanan itu tailor-made, jadi tidak saklek. Kita bisa membuat sesuai kebutuhan nasabah, misal soal transfer, jasa giro hingga jangkauan bisa disesuaikan,” ucapnya saat Paparan Kinerja Kuartal II/2023, Rabu (20/9/2023).

Tak hanya itu untuk mengurangi konsentrasi risk, pihaknya juga meningkatkan pendanaan bank melalui program-program kampanye yang selalu disesuaikan dengan perkembangan pasar yang diperbarui tiap bulan, sehingga suku bunga yang ditawarkan tetap kompetitif dan diminati nasabah di pasar.

“Kami juga melakukan pembukaan kantor cabang baru pada daerah-daerah potensial yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dana. Selain itu, kami melakukan pengembangan tim Direct Sales secara bertahap ke seluruh kantor cabang,” kata Widjaja.

Selanjutnya, PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) misalnya yang berupaya menambah jumlah nasabah kelas atas atau yang dikenal dengan nasabah affluent untuk meningkatkan kinerja.

Direktur Utama BINA Henry Koenaifi mengungkapkan ke depannya perseroan berencana untuk menghadirkan layanan perbankan yang prima, dan ditujukan untuk para nasabah prioritas.

“Harapannya, para nasabah bisa semakin nyaman dan aman dalam melakukan aktivitas transaksi perbankannya dengan menggunakan layanan dari Bank Ina dan bisa memberikan dampak positif terhadap peningkatan jumlah nasabah affluent baru di akhir tahun nanti”, ungkapnya dalam siaran pers terbaru BINA, Rabu (13/9/2023).

Henry menambahkan, BINA juga akan terus berinovasi dalam menghadirkan produk dan layanan yang berbasis digital sesuai dengan kebutuhan para nasabah. Saat ini, perseroan telah memiliki layanan INA Mobile yang memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi.

Di sisi lain, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan meski pihaknya belum memiliki produk priority banking dan sejenisnya, akan tetapi Bank Oke berusaha mendapatkan nasabah yang mempunyai dana besar, baik nasabah individu maupun nasabah korporasi.

“Untuk bank-bank relatif kecil, misalnya KBMI-1 menurut kami justru nasabah seperti ini yang menjadi tulang punggung pendanaan mereka karena jumlah nasabah individu mereka pastinya tidak sebanyak bank-bank besar di KBMI 4,” ujarnya pada Bisnis, Rabu (20/9/2023).

Saat disinggung soal seberapa besar potensi dalam mendongkrak kinerja bank, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin berujar itu semua tergantung.

Apabila bank mini bisa memanfaatkan ini untuk kredit yang sifatnya jangka pendek dan dengan yield tinggi itu akan menguntungkan dan pasti mendongkrak kinerja.

“Tapi kalau hanya idle percuma, buang energi dan cost of fund tinggi,” ucapnya.

Oleh karena itu, baginya penting untuk bank-bank mini mencari cara untuk mengalokasikan dana nasabah prioritas ke berbagai jenis produk funding yang perbankan KBMI I tawarkan, Hal ini dapat membantu bank untuk diversifikasi sumber dana mereka dan mengurangi risiko yang terkait dengan mengandalkan satu jenis dana saja.

Pada akhirnya, potensi besar untuk mendongkrak kinerja bank-bank mini terletak pada kemampuan mereka untuk cerdas dalam mengelola dana nasabah prioritas, menawarkan kredit yang menguntungkan, dan menjaga aset mereka tetap produktif. 

Strategi seperti ini diyakini akan membantu bank-bank mini untuk bersaing secara efektif dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Rekening Nasabah di Industri Perbankan Juli 2023

Tiering Nominal

Jumlah (Rp Triliun)

% MoM

% YoY

N≤ 100 juta

518.850.809

0,9

7

100 juta < N ≤ 200 juta

3.016.073

0,6

2,2

200 juta < N≤ 500 juta

2.156.513

1,2

5

500 juta < N  ≤ 1 miliar

802.144

1,4

3,7

1 miliar < N ≤ 2 miliar

357.943

1

4,2

2 miliar < N ≤ 5 miliar

209.979

1,2

5,6

N > 5 miliar

131.026

1,3

5,6

Total

525.524.487

8

33

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper