Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bunga bank tetap tinggi, itu salah deposan besar?

JAKARTA: Pemaksaan penurunan suku bunga kredit masih akan tersandera tingginya beban biaya dana yang diminta oleh deposan besar. Terlebih lagi, mereka melihat kebutuhan likuditas perbankan besar di tengah ekspansi kredit yang membumbung tinggi.Ekonom
Saeno
Saeno - Bisnis.com 16 November 2011  |  19:02 WIB

JAKARTA: Pemaksaan penurunan suku bunga kredit masih akan tersandera tingginya beban biaya dana yang diminta oleh deposan besar. Terlebih lagi, mereka melihat kebutuhan likuditas perbankan besar di tengah ekspansi kredit yang membumbung tinggi.Ekonom Senior ISEI Mirza Adityaswara mengatakan deposan di Indonesia masih sulit untuk menerima suku bunga deposito di bawah angka inflasi. Pasalnya margin dinilai tergerus kenaikan harga.“Bisa nggak bunga deposito di bawah inflasi? Negara lain sih bisa. Tapi sebenarnya kondisi sekarag sudah membaik, dengan inflasi 4,5% BI rate 6%. Itu artinya risiko sudah membaik dari sebelumnya yang pernah selisih 5%,” ujarnya siang ini.Selain itu, sambungnya, rasio kredit terhadap dana (loan to deposit ratio/LDR) perbankan juga cukup besar, sehingga tingkat ketergantungan pada likuiditas cukup besar. Hal itu bisa dilihat dari LDR sejumlah bank yang di atas 90%.LDR perbankan hingga September 2011 mencapai 81,36%, naik dari periode sebelumnya 77,06%. Namun, jika PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk keluar dari perhitungan, LDR bank nasional di atas 90%, karena rasio intermediasi kedua bank itu berada di bawah rata-rata industri.Kondisi tersebut, kata Mirza, dilihat oleh para deposan besar, sehingga meminta imbal hasil tinggi, bahkan di atas BI Rate. “Ini kenapa deposan besar, seperti BUMN masih bisa ‘main-mainkan’ bank. Mereka tahu kondisinya,” tegasnya.Menurutnya, tren tersebut akan mempengaruhi ekspansi bisnis perbankan tahun depan, karena kebutuhan likuiditas akan semakin besar untuk membiayai ekspansi kredit. Dia sendiri mentaksir pertumbuhan kredit mencapai 23% sejalan dengan pertumbuhan ekonomi 6,5% dan inflasi 4,7%.Guna memastikan transmisi kebijakan moneter, BI berjanji akan mengawal menurunkan bunga kredit melalui rencana bisnis bank (RBB). Dalam RBB, bank diminta mencantumkan rencana aksi efisiensi guna menurunkan bunga kredit. Bank akan diberikan sanksi jika tak menjalankan aksi itu.Mirza menambahkan ‘pemaksanaan’ penurunan bunga kredit akan berdampak kepada minat investor dalam menambah modal. Pasalnya penurunan bunga sama saja dengan memangkas margin bank, sehingga ekspektasi kedepan investasi sektor perbankan di Indonesia akan menurun. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top