Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MERRILL LYNCH berharap Bank Indonesia tahan suku bunga acuan

JAKARTA: Bank of America Merill Lynch berharap Bank Indonesia menahan laju kebijakan suku bunga dasar acuan pada level 5,75% untuk sementara waktu mengingat ketidakpastian atas kenaikan harga bahan bakar minyak dan inflasi.Chua Hak Bin,  Head of
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 08 Mei 2012  |  17:19 WIB

JAKARTA: Bank of America Merill Lynch berharap Bank Indonesia menahan laju kebijakan suku bunga dasar acuan pada level 5,75% untuk sementara waktu mengingat ketidakpastian atas kenaikan harga bahan bakar minyak dan inflasi.Chua Hak Bin,  Head of Emerging Asia Economics Global Research Bank of America Merrill Lynch mengungkapkan rerata inflasi sepanjang tahun dapat mencapai 5,7% apabila terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni, atau 4,7% jika terjadi penyesuaian."Pilihan pertama jika ingin melakukan pengetatan moneter sebaiknya melalui kenaikan GWM [giro wajib minimum] dan penyempitan koridor suku bunga, sehingga tingkat suku bunga FASBI menjadi lebih tinggi, alih-alih peningkatan BI Rate [suku bunga acuan]," ujarnya kepada Bisnis, 8 Mei 2012.Dia juga menilai ada kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan persyaratan cadangan utama (GWM) menjadi 10% dari 8% pada 10 Mei 2012.Chua juga mengungkapkan saat ini rencana pemotongan subsidi masih belum menemukan titik terang karena masih menemukan berbagai kendala dalam implementasi. Dia menilai defisit fiskal dapat melebar menjadi 3,2% dari PDB, di atas perkiraan 2,2%, jika BBM tetap disubsidi seperti saat ini.Menurutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan mengalami perlambatan menajdi 6% sepanjang tahun ini dari 6,5% pada tahun lalu. Perkiraan tersebut di bawah perkiraan pemerintah 6,3%--6,7%.Pertumbuhan tersebut sebagian besar didorong oleh investasi yang mencapai 9,9% dan konsumsi pemerintah sebesar 5,9%. Sementara pengeluaran rumah tangga sedikit melambat menjadi 4,9%. Sementara ekspor mencapai 7,8%.Meski demikian permintaan domestik tetap tangguh, tumbuh dengan kecepatan yang sama 6,4% dibandingkan dengan kuartal akhir tahun lalu.Dengan Demikian, lanjut Chua, pemerintah harus lebih kuat menyerap anggaran dan melakukan investasi guna mendukung pertumbuhan secara keseluruhan. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top