Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA BPR: Suku bunga turun, dana pihak ketiga sulit diraih

SURABAYA: Persaingan ketat industri perbankan serta turunnya suku bunga penjaminan simpanan membuat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jatim kesulitan mendongkrak penghimpunan dana pihak ketiga.Bahkan selama triwulan pertama 2012 outstanding Dana Pihak
News Editor
News Editor - Bisnis.com 28 Mei 2012  |  15:17 WIB

SURABAYA: Persaingan ketat industri perbankan serta turunnya suku bunga penjaminan simpanan membuat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jatim kesulitan mendongkrak penghimpunan dana pihak ketiga.Bahkan selama triwulan pertama 2012 outstanding Dana Pihak Ketiga (DPK) lebih rendah dibandingkan ekspansi kreditnya. Per Maret 2012  total penyaluran pinjaman bank tersebut mencapai Rp5,15 trliun.Pada bulan yang sama 358 BPR yang beroperasi di Jatim ini hanya membukukan DPK sebesar Rp4.18 triliun. "Tawaran bunga Deposito BPR menjadi kurang menarik setelah LPS [Lembaga Penjaminan Simpanan] menurunkan suku bunga penjaminan simpanan BPR dari 8,5% menjadi 8%" ujar Ketua Perbarindo Jatim Hary Woeryanto kepada Bisnis hari ini.Menurutnya besaran suku bunga penjaminan simpanan sebesar itu membuat  BPR semakin sulit bersaing dengan bank umum. Meskipun suku bunga penjaminan simpanan bank umum juga rendah yakni menjadi 5,5% tetapi bank umum memiliki layanan yang lebih menarik seperti fasilitas ATM, gebyar undian dengan iming-iming hadiah yang besar.Sementara itu di kalangan BPR baru beberapa perusahaan yang  mulai melakukan investasi untuk layanan ATM. "Kami memang ada program undian bersama dari sejumlah BPR yang beroperasi di Jatim tetapi besaran hadiahnya belum bisa mengimbangi bank umum."Namun menurut dia, rendahnya pencapaian DPK tidak membuat BPR mengurangi ekspansi kredit. Kantor BI Surabaya mencatat sepanjang Januari-Maret 2012 penyaluran kredit BPR di Jatim terus meningkat.Per Maret 2012 posisi penyaluran pinjaman tersebut mencapai Rp5,15 triliun, tumbuh 20,3% dibandingkan bulan yang sama 2011 yang tercatat Rp4,3 triliun. Sementara pada Januari  2012, outstanding  kredit BPR ini masih dikisaran Rp4,8 triliun dan bulan berikutnya naik menjadi Rp4,9 triliun.  Pada Februari 2012 naik lagi menjadi Rp5,02 triliun."Menariknya komposisi pertumbuhan kredit BPR untuk sektor pertanian semakin membesar karena teman-Teman BPR ini optimistis terhadap komitmen Pemprov Jatim menjadi pertanian sebagai sektor unggulan," papar Hary.Jika Maret tahun lalu posisi penyaluran kredit BPR  kepada petani  hanya tercatat Rp900,3 miliar, bulan yang sama tahun ini    mencapai Rp1,07 triliun. Sebagaimana kinerja bank umum, ekspansi kredit terbesar Jatim masih kepada pedagang.Sementara itu dari jenis penggunaannya didominasi  kredit modal kerja yakni sebesar Rp3,4 triliun per Maret 2012. Disusul dengan kredit konsumsi senilai Rp1,6 triliun dan sisanya kredit investasi sebesar Rp156 miliar."Secara umum pertumbuihan ekspansi kredit BPR ini tidak lepas dari adanya kerja sama dengan lembaga penjaminan kredit yakni Jamkrida," ungkap Hary.Perbarindo, lanjutnya, memproyeksikan ekspansi kredit tersebut masih akan terus tumbuh. Kalau tahun lalu naik sekitar 19%, saat ini prediksinya bisa sekitar 20%-25%. (arh)

 

 

SITE MAP:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Dwi Wahyuni

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top