Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kredit Bermasalah Naik, Bank Masih Optimistis

Kalangan perbankan optimistis kenaikan rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) di sejumlah sektor tak akan mengganggu kinerja tahun ini.
Galih Kurniawan
Galih Kurniawan - Bisnis.com 23 September 2014  |  02:50 WIB
Berdasarkan data Bank Indonesia pada Juli 2014, NPL sektor konstruksi mencapai 4,43%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 4,24%. - Skalanews
Berdasarkan data Bank Indonesia pada Juli 2014, NPL sektor konstruksi mencapai 4,43%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 4,24%. - Skalanews

Bisnis.com, JAKARTA—Kalangan perbankan optimistis kenaikan rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) di sejumlah sektor tak akan mengganggu kinerja tahun ini.

Sebagaimana diketahui Bank Indonesia tengah mencermati tingginya NPL pada empat sektor, yakni konstruksi, pertambangan, perdagangan, dan jasa sosial.

Direktur Bisnis Komersial PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sulaiman A. Arianto mengatakan kenaikan NPL memang mulai terlihat di sejumlah sektor. Namun dia meyakini kinerja BRI masih baik lantaran penyaluran dana ke sektor tersebut dilakukan melalui kredit sindikasi.

“Kami biayai di pertambangan juga tapi harus yang sudah ada kontrak. BOPO (rasio biaya operasional dengan pendapatan operasional) sejauh ini masih baik,” ujarnya.

Dia mengatakan kucuran kredit BRI ke segmen korporasi tak terlalu besar. Porsinya hanya sekitar 20% dari total kredit. Salah satu sektor yang mereka biayai adalah pertambangan. Menurutnya kredit korporasi di BRI hanya bersifat complementary alias pelengkap karena fokus utama BRI di kredit UMKM.

Berdasarkan data Bank Indonesia pada Juli 2014, NPL sektor konstruksi mencapai 4,43%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 4,24%.

Pada sektor pertambangan, NPL tercatat sebesar 3,09%, sedangkan pada Juni sebesar 2,49%. Adapun sektor perdagangan pada Juli mencatat NPL 3,06% dari 2,92% pada Juni, sedangkan jasa sosial sebesar 2,96% pada Juli dan 2,48% pada bulan sebelumnya.

Meskipun begitu BI menegaskan risiko kredit perbankan masih dalam batas aman lantaran NPL keseluruhan berada pada level 2,24%, jauh di bawah batas aman yakni 5%.

Sejumlah kalangan sebelumnya meyakini kenaikan NPL di sejumlah sektor tak semata-mata dipicu kenaikan suku bunga kredit melainkan juga situasi industri bersangkutan. Meskipun begitu faktanya pada Juli 2014 suku bunga kredit untuk sejumlah sektor usaha terlihat naik dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2014 suku bunga rata-rata kredit di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan mencapai 12,11%, lebih tinggi dibandingkan Juni yang tercatat 11,9%. Kenaikan juga terjadi di sektor pertambangan dan penggalian di mana pada Juli tercatat 12,8%, sedangkan pada Juni hanya 12,43%.

Dari 18 kategori lapangan usaha yang didata OJK pada Juli 2014, hanya kredit di sektor perantara keuangan serta sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib yang tidak mengalami kenaikan suku bunga. Pada Juli 2014 rata-rata suku bunga kredit kedua sektor tersebut masing-masing tercatat 12,27% dan 10,51%.

Direktur Retail Banking PT Bank Permata Tbk Bianto Surodjo sebelumnya mengatakan sejauh ini pihaknya cukup fleksibel dalam penetapan suku bunga baik dana maupun kredit. Sejak Juni lalu, kata Bianto, besaran suku bunga relatif stabil.

“Di kredit ada beberapa yang naik tapi tidak signifikan, kami akan sesuaikan pasar.” Dia mengaku optimistis strategi yang mereka jalankan sejauh ini sudah tepat untuk memicu profitabilitas.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

npl
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top