Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NPL BPR Sulut Sangat Mengkhawatirkan

Kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank perkreditan rakyat (BPR) di Sulawesi Utara (Sulut) sangat mengkhawatirkan yang ditengarai akibat pembiayaan ganda (double financing) kepada debitur.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 29 September 2014  |  19:21 WIB
BPR Sulawaesi Utara - JIBI
BPR Sulawaesi Utara - JIBI

Bisnis.com, MANADO --‎ Kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank perkreditan rakyat (BPR) di Sulawesi Utara (Sulut) sangat mengkhawatirkan yang ditengarai akibat pembiayaan ganda (double financing) kepada debitur.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit bermasalah BPR di daerah tersebut mencapai 10,41% per Juli 2014, padahal Juli tahun lalu tercatat hanya 5,83%.

Kepala Perwakilan BI Sulut Luctor E Tapiheru mengatakan realisasi ‎NPL ini sudah melebihi dari ketentuan BI bahwa tidak boleh melebihi angka 5%. "Bisa jadi double financing menjadi salah satu penyebab NPL BPR di Sulut cukup tinggi yakni 10,41% di bulan Juli 2014," kata Luctor, Senin (29/9/2014).

Meskipun demikian, secara bulanan kredit bermasalah Juli mengalami penurunan tipis dari Juni 2014 yang mencapai 10,64%.

Menurut Luctor, pembiayaan ganda ini sebenarnya bisa dihindari jika perbankan mengikuti aturannya, dengan melihat daftar BI checking. Dengan begitu, pihak perbankan akan mengetahui nasabah mana saja yang bermasalah.‎

Pada perkembangan lain, ada perbankan juga yang tidak melakukan hal tersebut, dengan tujuan mengejar target penyaluran kredit. Namun, akhirnya itu berimbas pada pemberian kredit yang tidak berkualitas dengan membuat NPL melambung jauh.

"Ada BPR yang tidak bisa memanfaatkan BI checking, padahal BI siap memberikan data tersebut," tegasnya.

Dia menegaskan pihaknya berharap BPR di Sulut akan terus melakukan pembiayaan ke sektor riil, tetapi harus dengan kehati-hatian sehingga menciptakan pembiayaan bermutu tinggi.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Sulut dan Gorontalo Denny Senduk membenarkan NPL BPR di Sulut sangat tinggi akibat pembiayaan ganda.

"Kami berharap, bank umum bisa cek lagi. Jika nasabah tersebut sudah mendapatkan pembiayaan di BPR, perlu dipertimbangkan jika hendak memberikan kredit, sehingga pembiayaan ganda bisa dihindari," jelas Denny.‎

Di sisi lain, BPR di Sulut didorong untuk terus membiayai sektor produktif hingga ke pedesaan. "BPR harus membiayai sektor riil hingga ke desa-desa, jangan hanya ke konsumtif saja," katanya.

Dia mengatakan tujuan awal pembentukan BPR adalah membiayai sektor produktif, tetapi kenyataannya lebih besar ke sektor konsumtif.

Menurutnya, pihak perbankan memang berorientasi kepada bisnis, namun seharusnya tidak meninggalkan tugas pokok utama untuk membiayai sektor riil yang sebenarnya masih banyak belum terjamah oleh dunia perbankan.

Dia menegaskan BPR bisa berfungsi strategis untuk mendukung pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sehingga mampu mendorong kemajuan ekonomi perdesaan.

"BPR diharapkan punya peran strategis untuk mendukung UMKM. Masyarakat berharap banyak BPR bisa mengembangkan perekonomian perdesaan dengan membiayai sektor produktif seperti pertanian, peternakan atau membiayai tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sesuai dengan area atau ruang lingkup BPR," jelasnya.

Hingga posisi Juli 2014, penyaluran kredit BPR di Sulut mencapai Rp707,67 miliar. Dari angka itu, realisasi paling besar ke sektor konsumsi sebesar Rp574,64 miliar atau 81,20% dari total kredit .

Setelah itu, penyaluran kredit sektor modal kerja berkontribusi terbesar kedua dengan pangsa 16,53% atau setara dengan Rp117 miliar. Adapun kredit investasi hanya 2,27% atau sebesar Rp16,03 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

npl
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top