Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

WORLD ECONOMIC FORUM: Ini Tujuh Delusi Ekonomi Taipan yang Berbahaya

Global Justice Now menyatakan sedikitnya terdapat tujuh delusi berbahaya dari kelas super kaya terkait dengan pembangunan ekonomi. Pemimpin dunia dan eksekutif bisnis yang tengah berkumpul di World Economic Forum (WEF) dinilai merumuskan ekonomi dengan kepentingannya sendiri.
Anugerah Perkasa
Anugerah Perkasa - Bisnis.com 22 Januari 2015  |  09:53 WIB
 Ilustrasi -
Ilustrasi -

Bisnis.com, JAKARTA— Global Justice Now menyatakan sedikitnya terdapat tujuh delusi berbahaya dari kelas super kaya terkait dengan pembangunan ekonomi. Pemimpin dunia dan eksekutif bisnis yang tengah berkumpul di World Economic Forum (WEF) dinilai merumuskan ekonomi dengan kepentingannya sendiri.

Alex Scrivener, Pengkampanye Global Justice Now (GJN), mengatakan dunia tak akan diselamatkan oleh segelintir kelompok super kaya sehingga bekerja dengan gerakan sosial musti dilakukan untuk menantang kekuatan mereka.   Para pemimpin dunia dan eksekutif bisnis yang berkumpul di Davos,  Swiss, demikian GJN, tengah berdiskusi bagaimana menjalankan ekonomi dengan kepentingannya sendiri. WEF berlangsung pada 21-24 Januari 2015.

"Kita dituntun untuk percaya tanpa bakat wirausaha mereka, kita akan menjadi lebih buruk daripada sekarang. Mitos kelas elit ini sudah demikian mendalam," kata Scrivener dalam keterangannya, Kamis (22/01/2015). "Hal itu akan membuat sulit untuk menantang kekuatan mereka."

Tujuh delusi itu dirangkum dalam riset terbaru GJN berjudul The Poor are Getting Richer and Other Dangerous Delusions yang diluncurkan pada hari ini. Mitos pertama  itu adalah kelompok miskin yang semakin kaya. Kenyataannya, orang-orang kaya lebih membelanjakan uangnya ke barang mewah sehingga tak menguntungkan mayoritas, atau menaruhnya ke Cayman Island.

"Ketidaksetaraan juga membungkus demokrasi, yang memunculkan suara dan kepentingan segelintir kelompok elit di atas masyarakat," demikian laporan tersebut. "Ini mengakibatkan korupsi, dengan kebijakan dan hukum yang dirancang untuk kepentingan taipan."

Mitos kedua adalah bisnis besar bekerja lebih baik dan efisien dibandingkan dengan sektor publik. GJN menyatakan kenyataannya adalah sektor swasta dapat bekerja dengan mengemis miliaran dolar uang publik, melalui subsidi dan dukungan.

GJN menuturkan mitos ketiga adalah kepercayaan terhadap pasar finansial untuk mengatasi masalah, karena terlalu menggantungkan hidup pada bankir. Selanjutnya adalah pertumbuhan yang dipercaya menyembuhkan ketidaksetaraan padahal tidak; semua orang beruntung di bawah mekanisme pasar bebas; Afrika membutuhkan bantuan, padahal benua itu memberikan uang lebih banyak ke negara kaya karena sumber daya alam dan terakhir, bantuan membuat dunia lebih setara.

"Bantuan itu tak berfungsi. Alih-alih membantu, bantuan justru digunakan membantu perusahaan multinasional untuk membangun pusat perbelanjaan dan memaksa negara miskin untuk memprivatisasi pelayanan publik," kata laporan tersebut.

GJN menyatakan bantuan macam ini perlu disetop dan perlu direformasi. Organisasi itu mengungkapkan reformasi berguna untuk menghentikan pelbagai bantuan yang hanya digunakan untuk alat kebijakan pasar bebas.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top