Meski Dilanda Kabut Asap, Angkasa Pura II Cetak Laba Rp1,35 Triliun

Meski operasional bandara sempat terganggu kabut asap, PT Angkasa Pura II mengaku telah mencatatkan laba bersih sekitar Rp1 triliun sepanjang Januari-September 2015, atau 74% dari target tahun ini sebesar Rp1,35 triliun.
Ringkang Gumiwang | 02 November 2015 04:04 WIB
Pergerakan pesawat di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (5/6/2015). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Meski operasional bandara sempat terganggu kabut asap, PT Angkasa Pura II mengaku telah mencatatkan laba bersih sekitar Rp1 triliun sepanjang Januari-September 2015, atau 74% dari target tahun ini sebesar Rp1,35 triliun.

Direktur Keuangan Angkasa Pura II Andra Y. Agussalam mengatakan optimistis target laba bersih hingga akhir tahun ini tercapai. Pasalnya, perseroan juga menggenjot pendapatan di luar sektor aeronautika.

“Biasanya November-Desember ini, pendapatannya mulai naik lagi, hujan sudah turun, lalu ada liburan juga. Selain itu, juga masih ada pendapatan dari konsesi, dan kontribusi dari anak usaha,” katanya, Minggu (1/11/2015).

Terkait kabut asap, Andra mengaku operasional bandara cukup terganggu, bahkan menggerus pendapatan perseroan. Dia mengaku sebanyak 3.000 penerbangan mengalami delay, sehingga menimbulkan kerugian hingga Rp20 miliar.

Meski demikian, lanjutnya, nilai kerugian tersebut terbilang cukup kecil ketimbang pendapatan yang sudah diterima perseroan sepanjang Januari-September 2015, yakni sebesar Rp4,01 triliun, atau 70% dari target Rp5,7 triliun.

Seperti diketahui, rata-rata jumlah bandara yang terganggu asap sebanyak 25-35 badara per hari sepanjang kuartal III/2015. Sebagian besar bandara yang terganggu berada di Sumatra dan Kalimantan. Akibat asap, maskapai terpaksa membatalkan jadwal penerbangannya.

Bandara yang terkena dampak paling besar antara lain Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi dan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Bahkan, Bandara Sultan Thaha sempat tidak beroperasi lebih dari satu bulan.

Di sisi lain, kebijakan revaluasi aset BUMN yang digulirkan pemerintah melalui paket kebijakan ekonomi tahap V guna menambah pendapatan negara, kemungkinan besar tidak akan dilakukan oleh Angkasa Pura II.

“Itu [revaluasi aset] kan sebenarnya untuk meningkatkan aset hanya di buku kan, dan enggak dapat apa-apa kita. Biasanya revaluasi aset itu digunakan oleh perusahaan untuk pendanaan,” ujar Andra.

Dia menilai pendanaan perseroan selama ini masih kecil, sehingga revaluasi aset belum perlu dilakukan. Apalagi, biaya yang dikeluarkan dari revaluasi aset cukup besar, yakni 3% dari total aset perseroan saat ini Rp20 triliun.

Meski demikian, sambungnya, Angkasa Pura II akan tetap melakukan kajian terhadap kebijakan revaluasi aset tersebut. Menurutnya, kajian yang akan dilakukan nantinya hanya bertujuan untuk mencari dampak-dampak positif lainnya.

“Jadi kalau  dari sisi pendanaan, kami enggak dapat manfaatnya. Tapi, kita kaji juga apakah dampak positif lainnya. Kalau misalnya, dampaknya itu kecil, kemungkinan besar tidak akan kami lakukan,” tegasnya.

Seperti diketahui, Menteri BUMN Rini Soemarno berharap seluruh perusahaan BUMN bisa direvaluasi. Dalam revaluasi aset, pemerintah akan memotong pajak penghasilan (PPh) final dari kegiatan revaluasi aset dari 10% menjadi 3%.

Tag : angkasa pura ii
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top