WIKA Tetap Manfaatkan Perbankan Tanah Air

Wijaya Karya, Tbk menyatakan tetap mengutamakan pendanaan dari perbankan tanah air selama pengerjaan proyek luar negeri.
Anitana Widya Puspa | 02 Mei 2016 23:44 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Wijaya Karya, Tbk menyatakan, tetap mengutamakan pendanaan dari perbankan Tanah Air selama pengerjaan proyek luar negeri.

 WIKA juga mengatakan, pengerjaan proyek dapat menggunakan fasillitas Letter of Credit (LC) perbankan dalam negeri.

Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk Suradi Wongso menegaskan pihaknya tidak melakukan peminjaman dana dari perbankan luar negeri selama beroperasi di negara tersebut.

"Kami tetap memanfaatkan perbankan BUMN maupun Swasta Nasional, misalnya kami ada pinjaman perbankan dari Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat, serta masih banyak perbankan lainnya, ujarnya kepada Bisnis, Senin (2/5/2016)

Suradi menjelaskan, telah melakukan penandatanganan kontrak pembangunan infrastruktur di luar negeri yang mencakup tiga negara yakni Timor Leste, Mayanmar, dan Malaysia.

Dia menuturkan, proyek yang tengah dikerjakan pihaknya adalah Bandara oe Cusia seniali Rp1,4 triliun dan Jembatan Comoro dan Jetty Hera senilai Rp200 miliar di Timor Leste.

Myanmar

Selain itu katanya proyek di Myanmar, yakni Jalan Maubin ADB-Pyapon senilai Rp100 miliar. Proyek negara tetangga lainnya di Malaysia yakni Jembatan Satubong senilai Rp120 miliar dan Mydin Supermall Kuching Malaysia seniali Rp100 miliar.

Sementara itu ,ada dua negara lain yang menjadi incaran prengerjaan proyek pihaknya. Perseroan mengincar pembangunan rumah sakit dan perhotelan di Timor Leste yang kini sedang dalam proses tender. Satu proyek lainnya yang tengah dalam penjajakan yakni pembangunan jalan layang di Filipina yang rencananya juga akan diikuti dengan pembangunan pabrik Beton WIKA

Untuk proyek-proyek Arab Saudi kami mengincar target hingga Rp600 miliar, katanya

Suradi menjelaskan, WIKA tertarik terhadap negara-negara tersebut dikarenakan telah memahami regulasi serta kemudahan dalam bekerja maupun pelaksanaanya. Selain itu juga adanya keterkaitan dengan tax treathy.

Dijelaskan berbagai kemudahan yang diperoleh yakni kemudahan dalam mengurus pendirian perusahaan perizinan dan mendatangkan tenaga kerja dari Indonesia serta kemudahan dalam perpajakan karena terdapat hubungan penghindaran pajak ganda.

Suradi menambahkan, perolehan kontrak itu akan mampu berkontribusi sekitar 5%--10% terhadap total pendapatan perseroan dengan nilai mencapai Rp2 triliun. Dia juga menambahkan pihaknya belum berencana menambah negara bidikan lain di luar negara yang disebutnya .

Pasalnya, masih banyak proyek domestik yang dikerjakan pihaknya seiring dengan proyek percepatan infrastruktur yang dicanangkan pemerintah.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wika

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top