Investor Punya Alternatif Investasi di EBA-SP, Apa Manfaatnya?

Investor diharapkan dapat memilih instrumen Efek Beragun Aset Surat Partisipasi atau EBA-SP dalam investasi guna membantu menumbuhkan volume Kredit Pemilikan Rumah serta memberikan solusi likuiditas.
Asteria Desi Kartika Sari | 28 Maret 2017 19:50 WIB
EBA-Ilustrasi - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Investor diharapkan dapat memilih instrumen Efek Beragun Aset Surat Partisipasi atau EBA-SP dalam investasi, guna membantu menumbuhkan volume Kredit Pemilikan Rumah serta memberikan solusi likuiditas.

Saat ini hanya terdapat satu perusahaan pembiayaan sekunder perumahan yang menerbitkan produk EBA-SP, yaitu PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). SMF akan membeli kumpulan piutang yang merupakan aset keuangan dari para kreditur asal.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Suheri mengatakan EBA-SP merupakan langkah sekuritisasi aset, yaitu membuat aset-aset yang tidak likuid menjadi aset likuid dengan cara menjual sekumpulan aset melalui penerbitan surat berharga. Dia mengatakan melalui EBA –SP juga dapat membantu mengatasi mismatch likuiditas.

“Bank menyalurkan pembiayaan berjangka panjang, katakanlah 5--20 tahun, biasanya dana itu berasal dari pihak ketiga yang masa simpanannya ditahan rata-rata tiga bulan. Kemudian EBA akan melikuidkan aset jangka panjang menjadi jangka pendek di perbankkan,” kata Suheri, Senin (27/3/2017).

Dia mengharapkan melalui EBA-SP tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan volume KPR di Indonesia serta memberikan solusi manfaat pasar modal sebagai sumber pendanaan. Melalui sekuritisasi, dana jangka panjang dari pasar modal dimanfaatkan untuk pembiayaan perumahan.

 Investor seperti dana pensiun dan asuransi dapat menggunakan EB-SP untuk pemenuhan Surat Berharga Negara (SBN) sesuai dengan surat keputusan Kepala Eksekutif IKNB S.6/D.5/2017 pada 12 Januari 2017.

Suheri menuturkan faktor yang dapat menjadi pertimbangan pemilihan instrumen tersebut yaitu kualitas kredit dan arus kas yang relatif dapat diperkirakan, pasalnya arus kas timbul dari tagihan atau piutang yang dibayar secara periodik oleh debitur dari kreditur awal.

“Dari segi kualitas kredit relatif aman dibandingkan dengan surat utang lainnya karena dijamin oleh tagihan atau piutang,” katanya.

Kendati demikian, menurutnya terdapat tantangan menarik investor untuk mengimplementasikan instrumen lantaran, pasalnya sudah terdapat beberapa instrumen investasi yang sebelumnya diterbikan seperti  Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) belum cukup menunjukkan hasil yang maksimal.

 “Jadi tantangannya bagaimana instrumen ini betul-betul bisa dipahami oleh seluruh pelaku industri , KIK EBA di industri dana pensiun saja masih sedikit porsinya ,” ujarnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
multifinance

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top