Bank Harus Berbenah di Tengah Persaingan

Kendati industri perbankan masih cukup kuat dari segi permodalan, Otoritas Jasa Keuangan mendorong agar pelaku industri lebih serius melakukan pembenahan agar siap menghadapi tantangan.
Ropesta Sitorus | 16 September 2017 07:00 WIB
Ilustrasi - www.udku.com.au

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati industri perbankan masih cukup kuat dari segi permodalan, Otoritas Jasa Keuangan mendorong agar pelaku industri lebih serius melakukan pembenahan agar siap menghadapi tantangan.

Deputi Komisoner Pengawasan Bank II OJK Yohannes Santoso Wibowo mengatakan ada tiga tantangan yang saat ini menghadang industri perbankan, yakni dari sisi eksternal yakni Asean, dari internal serta dari segi perkembangan teknologi.

Dari sisi Asean, implementasi Asean Banking Integration Framework pada 2020 membuat perbankan nasional harus menyiapkan sumber daya manusia agar berdaya saing.

"Kita punya tiga kelompok bank yakni konvensional, syariah dan bank pembangunan daerah (BPD), mudah-mudahan semua aware bahwa peningkatan SDM itu sangat penting terutama dalam ABIF 2020," katanya di Jakarta, belum lama ini.

Dari sisi teknologi, Yohannes menyinggung keberadaan industri layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology.

Menurutnya, perbankan tidak boleh berdiam diri dan harus mengelaborasi layanannya agar dapat menjangkau kalangan milenial dan UMKM yang saat ini mulai digarap oleh fintech.

"Adanya peer to peer lending itu menggerogoti bisnis perbankan, baik yang konvensional maupun yang syariah. Fintech saat ini sudah ada di OJK dan yang mendaftar sudah cukup banyak," paparnya.

Persoalan ketiga yang disoroti Yohannes yakni tentang kondisi internal. Penguatan perbankan harus selaras dengan dengan penguatan sektor riil. Agar bank nasional tidak kalah saing dari sisi funding, maka ekspor harus terus dipacu.

Sejalan dengan itu. bank juga didorong agar lebih berani dalam mengucurkan kredit. Apalagi, dengan adanya pengakuan rating layak investasi dari empat lembaga pemeringkat internasional.

"Mestinya kita harus lebih memanfaatkan itu, terutama perbankan dalam memberikan kredit harus lebih berani dengan tetap menomorsatukan prinsip kehati-hatian," jelasnya.

Secara umum, lanjut Yohannes, kondisi perbankan masih dalam kategori kuat dan positif. Hal ini tercermin dari posisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 23,4%.

Di sisi lain, efisiensi perbankan terus didorong. Menurutnya, Return on assets (ROA) bank di Indonesia sebesar 2,5% adalah yang tertinggi di Asean. Begitu juga dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang berada di level 5,35%, padahal rata-rata NIM di negara Asean ad adi level 1,4% - 4%.

"Kalau dihubungkan dengan statement dari pak Jokowi soal bunga kredit rendah, harus ada kerelaan dari rekan-rekan perbankan, bagaimana kalau misalnya berani menurunkan NIM dan ROA supaya bisa lebih efisien," ujarnya.

Sementara itu, dia juga mengapresiasi Indonesia Banking Awards 2017 sebagai pemberian penghargaan atas kinerja pelaku usaha. Event tersebut digelar majalah Tempo bekerjasama dengan Indonesia Banking School.

Ada 97 pemenang penghargaan yang terbagi atas delapan kategori, yakni the most efficient bank, the most reliable bank, diversity of the board, the best bank in the digital service, the best bank in retail banking services, best sharia business unit, best bank in productivity, dan best parenting bank.

Kategori The Most Efficient Bank dari kelompok bank konvensional diraih oleh BCA, BRI, Bank BTN, Bank Jasa Jakarta, Bank Index Slindo, Bank Bisnis Internasional, BTPN, Mayapada dan Bank Sinarmas.

untuk kelompok bank syariah diraih oleh Bank Aceh, BNI Syariah, BRI Syariah, BTPN Syariah, BCA Syariah, bank Panin Dubai Syariah. Untuk BPD diraih oleh Bank BJB, Bank Jatim, Bank Jateng, Bank Kalbar, Bank SulSelBar, Bank BPD Bali, Bank Sulteng, Bank Bengkulu dan Bank Kalteng.

Kategori The Most Reliable Bank kategori Bank Konvensional BCA, BRI, BNI, Bank BTPN, Bank Mayapada, Bank Woori Saudara Indonesia, Bank Jasa Jakarta, Bank Index Selindo dan Bank Mandiri Taspen Pos. Kelompok bank syariah diraih Bank Aceh, BNI Syariah, BRI Syariah, BTPN Syariah, BCA Syariah, Panin Dubai Syariah, Bank Jateng, Bank BJB, Bank Jatim, Bank Kalbar, Bank BPD Bali, Bank SulSelBar serta Bank Maluku Malut, Bank Kalteng dan Bank NTB.

Kategori The Best Bank in Digital Services diraih BRI, Mandiri, BCA, Bank Danamon, Bank BTN, CIMB Niaga, Bank Bukopin, Bank Mayapada, Bank Syariah Mandiri, Bank Jatim, Bank KEB hana dan Bank Riau Kepri.

Kategori penghargaan The Best Bank in Retail Banking Services dimenangkan oleh BCA, BNI, BRI, OCBC NISP, CIMB Niaga, Bank BTN, Bank DBS Indonesia, Bank Mayapada, Bank Bukopin, Bank China Construction Indonesia (Bank Antar Daerah), Bank Yudha Bhakti, Bank Bisnis International, Bank BJB, Bank Bengkulu dan Bank SulutGo.

Adapun, kategori The Best Sharia Business Unit diraih Bank SulSelBar, Bank NTB, Bank BPD DIY, CIMB Niaga, Bank BTN dan Bank Sinarmas.

Kategori penghargaan The Best Bank In Producitivity diraih Bank Victoria International, Bank Resona Perdania, dan Bank BTN, Bank Sultra, Bank Bengkulu, Bank NTB, BCA Syariah, Bank Mega Syariah dan Bank Syariah Bukopin.

Kategori penghargaan Diversity of The Board dimenangkan BNI, BCA, BRI, Bank Mayapada. Terakhir, kategori penghargaan The Best Parenting Bank diraih Bank Mandiri, Bank BTPN dan Panin Bank.

Tag : perbankan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top