Kiat Hindari Rugi Investasi Barang Mewah

Bagi pecinta tas mewah seperti Hermes, Chanel, atau Louis Vuitton, barang yang dikoleksi itu tak hanya sekadar aksesori pelengkap penampilan atau cara untuk masuk dalam strata elite.
Asteria Desi Kartika Sari | 09 Maret 2018 21:31 WIB
Tas Birkin terbuat dari kulit buaya Himalaya dari rumah mode Hermes - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Menjadikan barang-barang mewah atau luxury goods sebagai bentuk investasi dilatarbelakangi asumsi bahwa barang-barang itu bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi di masa depan.

Bagi pecinta tas mewah seperti Hermes, Chanel, atau Louis Vuitton, barang yang dikoleksi itu tak hanya sekadar aksesori pelengkap penampilan atau cara untuk masuk dalam strata elite.

Di balik itu terdapat sebuah investasi dengan nilai yang tinggi. Salah satu contoh, Hermes Birkin dengan kulit buaya menjadi produk dengan haga jual tertinggi karena dilengkapi dengan 200 buah berlian 8,2 karat.

Inestasi barang mewah juga dapat dikatakan sebagai investasi alternatif dari investasi konvensional. Dengan kata lain, investasi tersebut menjadi langkah untuk mendiversifikasi portofolio dan memitigasi risiko investasi.

Kendati demikian, investasi di barang mewah memiliki risiko yang tinggi. Pasalnya, bukan tidak mungkin harga barang jatuh ketika investor tidak bisa menemukan pembeli yang  rela merogoh kocek lebih dalam.

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Asad menuturkan bahwa peluang investasi barang mewah masih besar, apalagi pemain untuk investasi tersebut terbilang tidak banyak.

Dia mengatakan keuntungan yang bisa didapat dari investasi barang mewah bisa mencapai 10% hingga 30%. Namun, tidak ada investasi yang tidak memiliki risiko, semakin besar keuntungan, maka risiko juga semakin tinggi. Menurutnya, investasi di barang merah juga memiliki risiko yang tinggi, sama halnya bermain investasi properti.

“Konsekuensinya kita juga harus berhati-hati. Artinya mesti tahu banget trik-triknya bagaimana menemukan pembeli, dan harus tahu pemeliharaannya seperti apa, karena ujung-ujungnya kalau salah pemeliharaan jadi rusak, tidak bisa dijual lagi,” paparnya.

Apalagi hal tersebut terjadi, keuntungan yang sudah dibayangkan dari awal hanya menjadi sebuah mimpi belaka karena yang didapat malah buntung. Selain pemeliharaan, investor harus tahu tren barang mewah yang sedang on point pada zamannya.

“Misalnya investasi jam tangan Rolex, eh, teryata waktu dijual sudah bukan trennya lagi. Jadi sudah tidak laku lagi di pasaran, terus buntung karena jatuh harga,” tuturnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila ingin menempatkan uang melalui investasi barang mewah. Pertama, perhatikan pendapatan dan portofolio investasi yang dimiliki supaya likuiditas keuangan tidak terganggu. Pasalnya, investasi barang mewah membutuhkan modal yang besar.

Kedua, investor harus mengalokasikan biaya dan mengetahui cara pemeliharaan terhadap barang mewah tersebut, untuk menjaga supaya barang masih memiliki nilai yang tinggi. Di antaranya dengangn penyimpanan yang benar untuk menjaga kelembapan udara agar tidak merusak barang.

Ketiga, investor harus masuk dalam komunitas yang menyukai barang mewah agar lebih update terhadap berbagai informasi seputar luxury goods. Dengan masuk dalam komunitas, investor juga dapat mengetahui minat pasar terhadap barang mewah yang dimiliki.

Bahkan, dari komunitas bisa mendapatkan calon pembeli. Apabila seseorang sudah memiliki hobi untuk mengoleksi barang mewah, semahal apapun barangnya tetap akan dibeli.

“Jadi harus aktif di komunitas, misalnya berinvestasi pada tas mewah, ya, eksis dengan orang-orang yang menyukai tas mewah. Karena kalau barang itu jatuh pada orang yang tidak mengerti, harga akan ikut jatuh,” tambahnya.

Tag : investasi, barang mewah
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top