Cara Menjaga Keuntungan di Investasi Saham

Alasan lain untuk berinvestasi saham adalah faktor likuiditas, karena saham merupakan salah satu instrumen investasi yang relatif mudah untuk dibeli dan dijual apabila investor membutuhkan dana dalam waktu cepat.
Asteria Desi Kartika Sari | 13 April 2018 19:26 WIB
Karyawati mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Dalam 5 tahun terakhir indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 46% dan menjadikan Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu pasar modal yang teratraktif di dunia. Tingginya potensi keuntungan itu membuat investasi saham sebagai salah satu yang menggiurkan.

Alasan lain untuk berinvestasi saham adalah faktor likuiditas, karena saham merupakan salah satu instrumen investasi yang relatif mudah untuk dibeli dan dijual apabila investor membutuhkan dana dalam waktu cepat.

Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo mengatakan investasi saham cocok untuk investasi jangka panjang dan menjawab tantangan kebutuhan dana di masa depan yang lebih kompleks, sedangkan kemampuan menabung terbatas guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. “Selain itu, keuntungan pajak dan biaya rendah juga menjadi kelebihan instrumen ini,” kata Budi.

Kendati begitu, menurutnya investasi saham belum begitu diminati oleh kebanyakan orang. Saat ini, masyarakat lebih memilih instrumen yang umum dan yang mudah dipahami, seperti properti, deposito, atau investasi emas.

“Membutuhkan edukasi lebih banyak agar masyarakat Indonesia menjadikan instrumen saham sebagai instrumen yang paling diminati,” jelasnya.

Namun, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah profil risiko investor. Investasi saham lebih sesuai untuk kategori investor agresif yang berani mengambil risiko besar untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Adapun untuk menjaga keuntungan tersebut, seorang investor harus menganalisis saham baik secara fundamental ataupun teknikal. “[Keuntungan] sangat bervariatif, ada saham yang dapat menghasilkan keuntungan puluhan hingga ratusan persen dalam 1 tahun, namun ada juga yang merugi. Jadi investor harus selektif dalam memilih saham yang tepat,” katanya.

Sementara itu bagi untuk seorang trader, lanjutnya, demi menjaga keuntungan mereka membatasi kerugian dengan menentukan nilai cut loss (pembatasan kerugian), serta menentukan nilai atau harga yang tepat untuk keluar setelah target harga tercapai.

“Sebaiknya tidak terlalu banyak membeli saham dari berbagai perusahaan untuk kemudahan monitor, dua atau tiga saham sudah cukup untuk memudahkan monitor dalam melakukan trading saham,” jelasnya.

Salah satu hal yang mempengaruhi peluang keberhasilan trading saham adalah menghindari pembuatan keputusan untuk membeli atau menjual secara emosional.

“Trader pemula saham biasanya minim pengetahuan dan pengalaman. Atau bermodal hanya ikut-ikutan agar dapat memperoleh keuntungan lebih tinggi. Jadi pada akhirnya trader pemula terjebak membuat keputusan berdasarkan emosi,” jelasnya.

Analisis teknikal saham digunakan agar seorang trader dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membeli dan saat yang tepat untuk menjualnya sehingga terhindar keputusan beli dan jual secara emosional.

Dengan melakukan analisa secara teknikal, seorang trader saham memperhatikan kecenderungan pergerakan harga dari waktu ke waktu dan menggunakan data tersebut untuk memprediksi pergerakan harga saham di masa yang akan datang.

Budi mengatakan, cara paling sederhana adalah dengan memperhatikan garis tren dari suatu saham apakah membentuk pola uptrend (naik), turun (downtrend) atau dalam kecenderungan tidak berubah (sideways).

“Namun analisis teknikal bukanlah segalanya, investor yang baik juga mempelajari faktor fundamental dari pilihan sahamnya untuk menentukan apakah saham tersebut akan dimasukkan dalam portofolio investasinya,” jelasnya.

Perencana keuangan Stanley Christian menambahkan di pasar saham terdapat beberapa tingkat perusahaan saham seperti blue chips atau lapis pertama, lapis kedua, dan lapis ketiga. Perusahan saham lapis ketiga, biasanya dikenal dengan istilah saham ‘gorengan’.

Dia merekomendasikan apabila seseorang memutuskan untuk berinvestasi saham, sebaiknya memilih saham blue chips seperti perusahaan infastruktur dan consumer goods yang memiliki pergerakan lebih stabil.

“Kalau untuk tujuan investasi sangat tidak direkomendasikan untuk saham gorengan atau lapis tiga, harganya cukup murah berapa rupiah per lembar saham, karena murah biasanya bergerakannya sangat cepat, ini lebih cocok untuk trader,” katanya.

Guna memilih saham yang tepat, memang secara teknik seorang investor dapat melakukan analisis grafik dan angka. Namun, dia menilai yang paling penting adalah mengetahui secara fundamental atau mengetahui kesehatan perusahaan melalui laporan keuangan yang secara rutin diterbitkan oleh masing-masing perusahaan.

“Ini yang paling mudah dan paling sederhana. Investasi saham di-review setahun sekali guna melihat kinerjanya apakah sesuai target atau tidak. Tujuannya untuk tetap menjaga instrumen investasi masih on track,” jelasnya.

Selain itu, cara lainnya untuk meminimalisir resiko adalah dengan diversifikasi investasi guna memecah aset dengan tidak menaruh telur di satu keranjang. Dalam konteks saham, jangan menaruh pada sektor yang sama.

 

Tag : investasi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top