Kuartal I/2018, Kredit BCA Tumbuh 15% Ditopang Segmen Korporasi

PT Bank Central Asia Tbk. mencatatkan kinerja yang melebihi ekspektasi pada kuartal I /2018 didukung membaiknya kondisi perekonomian.
Ropesta Sitorus | 24 April 2018 05:32 WIB
Nasabah bertransaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Kamis (11/1/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. mencatatkan kinerja yang melebihi ekspektasi pada kuartal I /2018 didukung membaiknya kondisi perekonomian.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, portofolio penyaluran kredit Bank BCA pada Januari – Maret meningkat 15,0% secara year on year yoy) menjadi Rp470 triliun dari periode sebelumnya sebesar Rp408,69 triliun.

Secara year to date, kredit yang disalurkan juga mengalami pertumbuhan sebesar 0,5% apabila dibandingkan dengan realisasi Desember 2017 sebesar Rp467,51 triliun.

“Kami sendiri surprise karena normalnya siklus pada kuartal I itu turun, kuartal II kembali ke periode Desember dan kuartal III dan IV akan naik,” kata Jahja dalam Jumpa Pers Paparan Kinerja Kuartal I/2018 BCA di Jakarta, Senin (23/4/2018).

Jahja mengatakan, bila mengacu pada kenaikan kinerja pada kuartal I/2018, pihaknya menjadi lebih optimistis untuk mencetak kinerja yang lebih tinggi hingga akhir tahun. Walau demikian, emiten bersandi BBCA itu tak mau buru-buru merevisi target pertumbuhan dalam rencana bisnis bank (RBB).

“Kami lebih optimistis, tetapi supaya tidak terlalu cepat ambil keputusan, secara official target kami masih 9% - 10%. Mudah-mudahan bisa seperti tahun lalu realisasinya melebihi target yang ditetapkan dari semula 9% menjadi 12,5%,” katanya.

Dia menjelaskan, penyumbang kenaikan kredit BCA yakni sektor korporasi secara umum yang tumbuh 17,6% (yoy) menjadi Rp179,4 triliun. Sejalan dengan itu, kredit komersial dan UKM juga naik 14,4% (yoy) menjadi Rp166,7 triliun.

Pada kuartal I/2018, permintaan kredit segmen bisnis BBCA lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Direktur BCA Rudy Susanto mengatakan tumbuhnya kredit korporasi BBCA ditopang beberapa bidang usaha, antara lain usaha keuangan seperti perbankan dan pegadaian yang naik dari Rp11,6 triliun menjadi Rp22 triliun.

Selain itu ada juga bidang usaha perkebunan dengan jumlah kredit dari Rp12 triliun per kuartal I/2017 menjadi Rp33 triliun per akhir Maret 2018. Jenis usaha ketiga yakni bidang telekomunikasi dengan jumlah kredit dari Rp8 triliun menjadi Rp11 triliun. “3 sektor usaha itu yang menyumbang pertumbuhan terbesar di segmen korporasi,” papar Rudy.

Adapun, untuk segmen kredit konsumer, tercatat pertumbuhan sebesar 12,0% (yoy) menjadi Rp123,9 triliun.

Pada portofolio kredit konsumer, kredit pemilikan rumah (KPR) naik 10,6% (yoy) menjadi Rp71,9 triliun, diikuti dengan kredit kendaraan bermotor yang naik 14,6% (yoy) menjadi Rp40,2 triliun. Total outstanding kartu kredit tercatat tumbuh 12,3% (yoy) menjadi sebesar Rp11,8 triliun.

Kenaikan kredit tersebut diikuti dengan upaya menjaga kualitas kredit dan pembiayaan dengan posisi rasio kredit bermasalah (NPL) berada pada level 1,5%. Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah tercatat sebesar 183,6%.

“BCA mempertahankan posisi likuiditas dan permodalan yang sehat dengan rasio kredit terhadap pendanaan atau LFR [loan to funding ratio]  sebesar 77,9% dan rasio kecukupan modal atau CAR [capital adequacy ratio] sebesar 23,6%,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bca

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top