Ini Alasan BUMN Marak Terbitkan MTN Tahun Ini

Penerbitan instrumen surat utang jangka menengah atau medium term notes oleh perseroan pelat merah diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun sejalan dengan tren kenaikan suku bunga acuan dan kebutuhan dana yang tinggi.
M. Nurhadi Pratomo | 17 Mei 2018 04:15 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA— Penerbitan instrumen surat utang jangka menengah atau medium term notes oleh perseroan pelat merah diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun sejalan dengan tren kenaikan suku bunga acuan dan kebutuhan dana yang tinggi.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, terdapat tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun entitas anak yang mengemisi medium term notes (MTN) sampai dengan pertengahan Mei 2018. Rencananya, Anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), PT Pabrik Gula Rajawali I, akan mencairkan dana segar dari instrumen itu senilai Rp250 miliar pada 17 Mei 2018.

Dengan tambahan emisi MTN Pabrik Gula Rajawali I tersebut, total jumlah pokok emisi MTN perseroan pelat merah mencapai Rp2,15 triliun sampai dengan pertengahan Mei 2018. Jumlah itu naik lebih dari 50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sekitar Rp1,40 triliun.

Direktur Utama Pabrik Gula (PG) Rajawali I Warsito menjelaskan bahwa medium term notes (MTN) perseroan terbagi menjadi Seri A dan Seri B. Jumlah pokok tiap surat utang tersebut Rp250 miliar.

Dengan demikian, sambungnya, PG Rajawali I akan mengemisi MTN Rp500 miliar. Surat utang tersebut memiliki kupon 8,25% dengan jangka waktu tiga tahun.

Warsito mengatakan pencairan MTN PT PG Rajawali I Seri A senilai Rp250 miliar akan dilakukan pada 17 Mei 2018. Dana yang dihimpun akan digunakan sebagai modal kerja dalam memenuhi kebutuhan operasional dan optimalisasi struktur pembiayaan.

Pekan lalu, emiten properti pelat merah, PT PP Properti Tbk., mengemisi surat utang jangka menengah atau medium term notes dengan jumlah pokok Rp100 miliar dengan jangka waktu pembayaran tiga tahun. PP Properti menerbitkan medium term notes (MTN) XI PP Properti dengan kupon 9,25%. Surat utang itu memiliki tenor tiga tahun dengan tingkat bunga tetap.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Marolop Alfred Nainggolan memproyeksikan penerbitan MTN oleh BUMN akan kian meningkat hingga akhir tahun ini. Pasalnya, jenis surat utang tersebut kini tengah diincar para investor.

Alfred menyebut tren kenaikan suku bunga acuan membuat investor lebih melirik instrumen MTN yang memiliki jangka waktu lebih pendek dibandingkan dengan obligasi. Artinya, investor lebih instrumen yang tidak mengikat terlalu panjang karena adanya keyakinan suku bunga acuan terus meningkat.

“Minat pasar terhadap MTN lebih basar karena mereka sudah bisa membaca tren kenaikan suku bunga The Fed,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (16/5).

Bagi penerbit MTN, sambungnya, instrumen itu menawarkan proses penerbitan yang lebih fleksibel. Apalagi, perseroan BUMN memiliki keuntungan tersendiri.

Alfred menyebut selisih kupon ketika BUMN menerbitkan obligasi dan MTN tidak terlalu jauh. Selisih yang ada dapat disubsitusi dengan kompensasi jangka waktu.

Kendati demikian, dia mengingatkan agar penerbit MTN dapat konsisten mampu menjaga margin pendapatan. Selanjutnya, harus dipertimbangkan kecocokan antara jangka waktu proyek dan tenor pembayaran.

“Jangan sampai terjadi miss match antara dana yang didapat dari MTN dan alokasinya,” jelasnya.

Secara terpisah, Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia menyarankan agar pengemisi MTN harus membidik calon investor sejak awal. Dengan demikian, instrumen tersebut dapat sepenuhnya terserap dan target dana yang dibidik tercapai.

Selain itu, dia menyarankan salah satu langkah yang dapat ditempuh pengemisi MTN yakni dengan melakukan pemeringkatan. Hal tersebut dapat menjadi daya tarik bagi investor meski secara aturan tidak diwajibkan.

Seperti diketahui, entitas anak BUMN lainnya, PT Wijaya Karya Beton Tbk., telah berencana menerbitkan MTN. Emiten berkode saham WTON itu membidik dana segar Rp200 miliar melalui instrumen tersebut.

Menurut pemaparan manajemen, saat ini WTON tengah melakukan penawaran awal kepada sejumlah calon investor dan perbankan. Ditargetkan, proses tersebut rampung pada April 2018 sehingga pencatatan dilakukan pada Mei 2018.

Di sisi lain, anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Waskita Beton Precast Tbk., juga berencana mengemisi MTN hingga Rp3 triliun. Saat ini, emiten berkode saham WSBP itu tengah menunggu pemeringkatan perseroan.

Tag : bumn, mtn
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top