Nilai Tukar Masih Berisiko Dipengaruhi Situasi Global

Kebijakan pengetatan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dinilai sulit untuk menstabilkan nilai rupiah.
Hadijah Alaydrus | 28 Juni 2018 18:45 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Kebijakan pengetatan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dinilai sulit untuk menstabilkan nilai rupiah.

Kepala Ekonom Bank CIMB Niaga Adrian Panggabean menuturkan prospek melemahnya mata uang China, Yuan, akibat pelonggaran moneter Bank Sentral China dapat menekan kurs di Asia Pasifik.

Seperti diketahui, Bank Sentral China akan memotong rasio persyaratan cadangan (Reserve Requirement Ratios/RRR) perbankan sebesar 0,5% per 5 Juli dan pengelontoran likuiditas sekitar 700 miliar yuan (US$108 miliar).

Dengan demikian, rupiah akan merosot lagi mulai minggu depan. Dia memperkirakan jika yuan merosot hingga 1%, rupiah bisa tembus Rp14.700 per dolar AS.

"Prospek akan melemahnya rupiah kemudian akan menyebabkan investor lanjut dengan sell-off dan terus menekan rupiah," ungkap Adrian kepada Bisnis, Kamis (28/6).

Selain itu, dia menilai prospek kenaikan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo akan menyebabkan IHSG menjadi terus tertekan karena prospek profit dari pasar saham jatuh.

Konsensus ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan suku bunga akan diputuskan naik 25 basis poin menjadi 5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 28-29 Juni 2018.

Dengan demikian, komitmen Bank Indonesia (BI) untuk selalu berada di atas 'arus' (ahead the curve) dan antisipatif (frontloading, preemptive) akan diejawantahkan menjadi pengetatan 7 Day Reverse Repo. Komitmen ini akan mengenapkan kenaikan sebesar 75 basis poin dalam rentang dua bulan berturut-turut.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual menuturkan bank sentral masih dihadapkan oleh sejumlah risiko global mulai dari kenaikan Fed Fund Rate yang diperkirakan hingga empat kali tahun ini dan perang dagang yang melebar ke Eropa.

Risiko ini diperberat dengan kenyataan bahwa neraca perdagangan Indonesia Januari-Mei mencatatkan defisit yang cukup besar US$2,83 miliar.

"[Alhasil], BI sejauh ini akan tetap konsisten untuk selalu ahead the curve, preemptive jadi kemungkinan mereka akan tetap menaikkan [7DRR] pada rapat esok," kata David, Selasa (27/6).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar rupiah

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top