Genjot Kredit, BNI Tokyo Incar Laba US$9,3 Juta Tahun Ini

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Tokyo membidik laba bersih senilai US$9,3 juta pada 2018, didorong oleh bisnis kredit perseroan.
Riendy Astria | 31 Juli 2018 10:07 WIB
General Manager BNI Cabang Tokyo Ario Bimo (kanan) bersama karyawan home staff BNI Tokyo sedang menunjukkan contoh kartu remitensi yang digunakan untuk pengiriman uang./Bisnis - Riendy Astria

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Tokyo membidik laba bersih senilai US$9,3 juta pada 2018, didorong oleh bisnis kredit perseroan.

Berdasarkan data perseroan per Juni 2018, kinerja keuangan perseroan baik dari sisi aset maupun profit tumbuh signifikan dalam 2 tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan aset dalam 2 tahun terakhir sebesar 35% ditopang oleh peningkatan loan, trade finance, dan securities.

Nilai aset BNI Tokyo per Juni 2018 tercatat US$700 juta atau tumbuh 34% dibandingkan dengan per Juni 2017 senilai US$523 juta.

Adapun, peningkatan aset secara langsung memberikan kontribusi terhadap peningkatan laba BNI Tokyo dengan rata-rata pertumbuhan 2 tahun terakhir sebesar 32%. Pada semester I/2018, laba tumbuh 20% dari US$3,5 juta pada Juni 2017 menjadi US$4,20 juta

General Manager BNI Cabang Tokyo Ario Bimo mengatakan bahwa perseroan menargetkan laba senilai US$9,3 juta pada tahun ini, didorong oleh bisnis kredit. Pada tahun lalu, BNI Tokyo masih mengandalkan bisnis dari capital market. Namun, lantaran kondisi pasar modal saat ini masih belum kondusif, perseroan memutuskan untuk lebih menggenjot bisnis kredit.

"Kami punya Japan Government Bond. Kemudian, market kurang bagus, mark to market turun, akhirnya jual, hasilnya bisa digunakan loan lagi," katanya, di Tokyo, Minggu (29/7/2018).

Berdasarkan data perseroan, penyaluran kredit BNI Tokyo per Juni 2018 sudah mencapai US$340 juta atau tumbuh 37% secara year-on-year (yoy). Pada semester I/2017, total kredit yang berhasil disalurkan perseroan senilai US$247juta. Adapun, dibandingkan dengan pencapaian akhir 2017, penyaluran kredit tumbuh 18%.

"Kami gencar melakukan pendekatan untuk loan perusahaan yang berpotensi ekspor, karena neraca perdagangan Indonesia defisit, jadi inginnya devisa kembali ke negara," jelasnya.

Duta Besar Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif mengatakan, BNI memiliki potensi yang besar untuk menyalurkan kredit kepada perusahaan Jepang, terutama yang memiliki perusahaan di Indonesia, begitu juga sebaliknya.

"Bagaimana bisa membantu keuangan untuk eksportir-eksportir ukuran menengah dan kecil. Mereka butuh modal yang murah. Potensinya besar, sektor perikanan, produk pertanian, kerajinan semua berpotensi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top