AKSI KORPORASI: Anak BUMN Atur Ulang Jadwal IPO

Entitas anak badan usaha milik negara berpeluang absen dalam penawaran umum perdana saham periode semester II/2018 sejalan penundaan eksekusi aksi korporasi tersebut dari tahun ini menjadi 2019.
M. Nurhadi Pratomo | 30 Agustus 2018 23:56 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (23/8/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Entitas anak badan usaha milik negara berpeluang absen dalam penawaran umum perdana saham periode semester II/2018 sejalan dengan penundaan eksekusi aksi korporasi tersebut dari tahun ini menjadi 2019.

Direktur Keuangan PT Hutama Karya (Persero) Anis Anjayani mengkonfirmasi tidak akan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) anak usaha dalam waktu dekat. Artinya, dipastikan tidak ada entitas anak perseroan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018.

Anis mengungkapkan rencana IPO dua anak usaha PT HK Realtindo dan PT Hakaaston mundur dari jadwal semula 2018. Rencananya, Hakaaston dijadwalkan akan mengeksekusi aksi korporasi tersebut pada tahun depan.

“Rencana IPO Hakaaston pada 2019,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (30/8/2018).

Dia menyebut saat ini Hakaaston tengah melakukan persiapan IPO. Adapun, HK Realtindo dijadwalkan akan melantai di BEI pada 2020.

Menurut catatan Bisnis.com, Hakaaston merupakan anak usaha perseroan yang memproduksi aspal dan beton. Entitas tersebut sebelumnya dijadwalkan IPO pada 2018 dengan target serapan dana yang dibidik yang mencapai Rp1 triliun.

Sementara itu, HK Realtindo merupakan entitas anak yang bergerak di bidang pengembang properti. Perseroan sebelumnya juga dijadwalkan IPO pada 2018 dengan jumlah dana segar yang diincar melalui IPO diperkirakan lebih dari Rp1 triliun.

Di sisi lain, Direktur Keuangan PT PP (Persero) Tbk. Agus Purbianto mengatur ulang jadwal IPO anak usaha. Awalnya, emiten berkode saham PTPP itu menjadwalkan PT PP Energi dan PT PP Urban untuk melantai di BEI tahun ini.

“Kami reschedule ulang karena melihat kondisi pasar,” paparnya.

Agus menjelaskan bahwa akan mengoptimalkan terlebih dahulu portofolio yang dimiliki oleh PP Energi. Rencananya, IPO entitas anak tersebut akan dieksekusi pada semester II/2019.

Secara terpisah, Direktur Keuangan PT PELNI (Persero) Tri Andayani menuturkan eksekusi IPO anak usaha, PT Rumah Sakit Pelni, masih dikaji perseroan. Salah satu poin yang menjadi pertimbangan utama yakni kondisi pasar modal yang tengah bergejolak.

“Masih mengkaji beberapa opsi lain juga agar mendapatkan fund raising secara optimal,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Tumiyana mengungkapkan rencana IPO PT Wijaya Karya Realty (Wika Realty) akan dieksekusi pada kuartal I/2019.  Saat ini, pihaknya tengah melakukan pembenahan portofolio yang diharapkan memperbesar nilai exit perseroan.

Selain Wika Realty, Tumiyana menyebut juga akan melakukan IPO untuk anak usaha lainnya. Adapun, entitas tersebut yakni PT Wijaya Karya Industri & Konstruksi.

In between kuartal I/2019 dan kuartal II/2019 dua-duanya keluar,” imbuhnya.

Secara terpisah, Direktur Keuangan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Entus Asnawi M. memaparkan proses persiapan IPO PT Adhi Persada Gedung tetap berjalan dengan menggunakan buku periode Juni 2018. Akan tetapi, pihaknya tetap mempertimbangkan kondisi pasar.

“Sementara pakai buku Juni 2018 tetapi jadi atau tidaknya lihat situasi market,” paparnya.

Saat dihubungi Bisnis.com, Deputi Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro mengatakan sizing, pricing, dan timing menjadi bahan pertimbangan pemerintah sebelum memberikan izin kepada anak pelat merah untuk melakukan IPO. Akan tetapi, keputusan akhir berada di masing-masing perseroan.

“Kami diskusikan secara umum tiga hal tersebut. Secara umum normanya, perusahaan menerbitkan ekuitas pada saat market uptrend,” jelasnya.

Untuk sizing IPO misalnya, Aloysius menyebut jika terlalu kecil kurang diminati investor institusi. Padahal, pihaknya berharap saham yang dilepas diserap oleh investor ritel dan investor institusi.

“Kami menginginkan kombinasi yang berimbang untuk menjaga stabilitas kinerja saham pasca IPO,” imbuhnya.

Tag : bumn, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top