Penetrasi Asuransi Rendah, Bisnis Pialang Online Dinilai Menjanjikan

Futuready Insurance Broker meyakini bisnis di industri pialang asuransi, khususnya melalui saluran digital atau online, masih menyimpan potensi besar, seiring dengan penetrasi asuransi di Indonesia yang masih rendah.
Azizah Nur Alfi | 19 September 2018 19:59 WIB
Direktur Utama PT Capital Life Indonesia Antony Japari (kiri) dan CEO & President Director Futuready Insurance Broker Sendy memberikan penjelasan sesuai penandatanganan kerja sama di Jakarta, Jumat (21/7). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Futuready Insurance Broker meyakini bisnis di industri pialang asuransi, khususnya melalui saluran digital atau online, masih menyimpan potensi besar, seiring dengan penetrasi asuransi di Indonesia yang masih rendah.

CEO & President Director Futuready Insurance Broker Sendy menuturkan, potensi itu terlihat dari jumlah penduduk Indonesia yang besar dan penggunaan teknologi yang tinggi. Kebiasaan berbelanja masyarakat juga telah bergeser dari offline ke online.

Potensi lain, kata dia, terdapat 16 juta pemegang polis unit link dengan premi yang lebih besar, dapat menjadi pasar untuk pemasaran produk asuransi tradisional dengan premi yang lebih terjangkau.

Menurutnya, penetrasi asuransi dapat dicapai dengan memperluas kerja sama. Di samping menggandeng 20 perusahaan asuransi sebagai mitra, perseroan juga tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan e-commerce untuk memperoleh pasar yang lebih besar. Rencana kerja sama ini berupa perlindungan terhadap pembelian produk dari e-commerce tersebut.

Hingga Juli 2018, penempatan premi melalui Futuready telah mencapai Rp6 miliar atau tumbuh 70% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Perseroan menargetkan dapat menempatkan premi ke perusahaan asuransi yang menjadi mitra mencapai Rp12 miliar hingga akhir tahun.

"Dengan mengandalkan produk tradisional dengan premi yang lebih rendah, penetrasinya akan lebih besar," katanya.

Di tengah potensi bisnis yang besar, perusahaan pialang asuransi online juga menghadapi sejumlah tantangan salah satunya, hadirnya perusahaan insurtech dan agregator. Sendy saat ini juga sebagai Deputi Departemen IT dan Statistik Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia.

Dia mendorong ketegasan Otoritas Jasa Keuangan untuk menertibkan agregator maupun perusahaan insurtech yang belum berizin. Sebab, aktivitas perasuransian telah diatur dalam UU No.40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

Sendy mengatakan, Futuready terdaftar dan diawasi oleh OJK melalui POJK No.70/POJK.05/2016 tentang penyelenggaraan usaha perusahaan pialang asuransi, perusahaan pialang reasuransi, dan perusahaan penilai kerugian asuransi.

Pihaknya telah menawarkan perusahaan agregator maupun perusahaan insurtech untuk masuk ke industri pialang asuransi berdasarkan POJK No.70/2016. Jika pun tidak, perusahaan agregator maupun perusahaan insurtech harus masuk ke regulatory sandbox mengacu pada POJK N0.13/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital.

"Perlu ketegasan regulator dalam menghadapi pemain yang belum berizin," imbuhnya.

Tag : asuransi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top