Margin Turun, Bank Pacu Pendapatan Komisi

Jelang tutup tahun perbankan berlomba-lomba meningkatkan pendapatan berbasis komisi atau fee based income setelah margin bunga bersih mereka tergerus oleh peningkatan beban biaya dana karena terkena dampak kenaikan suku bunga acuan.
Ipak Ayu H Nurcaya | 08 Oktober 2018 14:20 WIB
Nasabah bertransaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA— Jelang tutup tahun perbankan berlomba-lomba meningkatkan pendapatan berbasis komisi atau fee based income setelah margin bunga bersih mereka tergerus oleh peningkatan beban biaya dana karena terkena dampak kenaikan suku bunga acuan.

General Manager Divisi Elektronik Perbankan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Anang Fauzi mengatakan, pada tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan dari pendapatan berbasis komisi pada jaringan elektronik (e-channel) sebesar Rp1,7 triliun.

Angka itu meningkat dari realisasi tahun lalu sebesar Rp1,5 triliun. Hingga kuartal III/2018 bank pelat merah itu sudah mengantongi pendapatan dari komisi e-channel sekitar Rp1,2 triliun.

“Saat ini pola transaksi mulai bergeser, e-channel kayak ATM pertumbuhan stagnan rerata 1%, bahkan ada beberapa ada yang turun, orang mulai tinggalkan ATM dan shifting ke mobile. Jadi kami menggenjot di platform digital yang terbukti signifikan, seperti m-banking saja sudah naik tiga kali lipat yoy [year-on-year],” katanya, Minggu (7/10).

Anang menuturkan, strategi menggenjot pendapatan komisi diperoleh dari jualan produk non tradisional yang dilayani Agen46. Dalam 2 tahun sejak digulirkan, Agen46 sudah memiliki 102.000 agen.

Selain itu, sambungnya, melalui aplikasi digital banking, yap! juga didorong menghasilkan komisi dari masyarakat yang bukan nasabah.

Bank dengan kode saham BBNI ini juga mencatatkan pertumbuhan penggunaan layanan digital oleh nasbah. Hingga saat ini ada 8 juta nasabah menggunakan SMS-banking dan 20 juta nasabah pengguna m-banking.

Bank lain, PT Bank Mayapada Internasional Tbk. juga berupaya menggejot pendapatan nonbunga sebagai langkah antisipasi tergerusnya margin bunga bersih atau net interset margin (NIM) akibat kenaikan suku bunga dana.

Presiden Direktur Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi mengatakan, dengan masih adanya risiko kenaikan suku bunga acuan manajemen masih akan mempertahankan NIM sama seperti sekarang atau di posisi 4,5% sampai akhir tahun.

“Kami masih menargetkan FBI [fee base income] tumbuh 20%, mengingat kami start juga dari nominal yang relatif kecil,” ujarnya.

Sementara itu, dalam laporan keuangan periode Agustus 2018, pendapatan operasional selain bunga mencapai Rp92,02 miliar. Nilai ini meningkat 143,37% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp37,81 miliar.

EVP Head, CFS Segmentation & Digital Banking PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Stefanus Willy Sukianto mengatakan, perseroan memilih strategi peningkatan pendapatan nonbunga melalui perluasan kerja sama dengan Allianz.

Mulai pekan lalu, melalui jaringan cabangnya di seluruh Indonesia, Maybank akan menawarkan 12 produk asuransi yang diluncurkan Allianz yang terdiri dari tujuh produk asuransi umum untuk harta benda dan lima asuransi perlindungan jiwa serta kesehatan.

Dengan bertambah produk asuransi ini, perseroan menargetkan pertumbuhan produksi bancassurance sebesar 25%. Sementara itu, pada tahun depan melalui kerja sama ini perseroan menargetkan kontribusi bancassurance terhadap pendapatan berbasis komisi sebesar 15%.

Adapun hingga saat ini bisnis bancassurance masih memberikan kontribusi 11%-12% terhadap pendapatan nonbunga Maybank.

“Kami mau dengan produk baru ini pertumbuhan bisnis bancassurance akan bertambah hingga 25% dan kontribusi ke fee based income menjadi 15%,” katanya.

SVP Transaction Banking and Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi mengatakan, pada tahun ini perseroan akan memaksimalkan dari kegiatan bertajuk gelaran-gelaran di sejumlah kota dan membidik transaksi dari ritel salah satunya platform e-commerce.

Pada akhir tahun nanti, perseroan juga masih menyiapkan penawaran untuk Harbolnas atau Hari Belanja Nasional.

Dia mengklaim, saat ini pendapatan dari komisi sudah meningkat 113% karena didorong oleh transaksi retail e-commerce. Adapun, hingga akhir tahun perseroan masih memiliki ekspektasi 150%.

“Itu secara nasional ya, kalau e-commerce saja kenaikannya memang kencang tapi volumenya masih lebih rendah dibanding EDC. Kalau EDC setiap bulan bisa Rp10 triliun sedangkan e-commerce masih miliaran,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Bank Permata Tbk. Lea Setianti Kusumawijaya mengatakan, perseroan tidak terlalu agresih mengincar pendapatan nonbunga. Artinya, secara gradual diharapkan komposisi pendapatan komisi bisa mengalami peningkatan.

Walaupun tidak sampai 50%, tetapi bisa tumbuh gradual mulai 10%, kemudian 15%, karena membiasakan nasabah untuk bertransaksi pada produk berbasis komisi ini butuh waktu. Artinya ada proses edukasi yang harus diupayakan perseroan.

“Fee based income di Permata macam-macam baik dari sisi ritel maupun korporasi termasuk komersial. Kalau ritel tentunya FBI terbesar dari wealth management, tapi sekarang wealth management juga penuh tantangan karena market belum stabil baik pasar ekuitas maupun pasar surat berharga banyak sekali tantangannya,” ujar Lea.

Tag : perbankan
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top