BUMN Bangun 1.500 Hunian Sementara di Lombok

Bisnis.com, LOMBOK — Pemerintah melalui sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan pembangunan 1.500 unit tempat tinggal semi permanen yang ramah gempa bagi para korban bencana di beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat.
Ipak Ayu H Nurcaya | 23 Oktober 2018 14:51 WIB
Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Catur Budi Harto (kanan) mengunjungi warga korban gempa yang sudah menempati Hunian Sementara (Huntara) di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, NTB, Selasa (23/10/2018). BNI bersinergi dengan BTN, Telkom, Wijaya Karya dan Waskita Karya membangun sebanyak 700 unit Huntara untuk korban gempa. - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, LOMBOK — Pemerintah melalui sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan pembangunan 1.500 unit tempat tinggal semi permanen yang ramah gempa bagi para korban bencana di beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat.

Bangunan yang disebut hunian sementara atau Huntara ini dipastikan lebih layak huni dibandingkan dengan tenda darurat. Sedikitnya sudah terbangun dalam18 lokasi terdampak gempa yang bisa menampung 1.500 keluarga korban bencana. Salah satu lokasi dengan jumlah Huntara terbanyak adalah Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu sebanyak 200 unit Huntara dan Desa Sajang sebanyak 127 unit Huntara.

Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Catur Budi Harto mengatakan, Huntara yang telah dibangun oleh beberapa BUMN telah mencapai 1.500 unit di seluruh NTB yang terdampak bencana gempa. Sementara BNI menjadi koordinator pembangunan 700 unit yang tersebar di Desa Sembalun Bumbung, Desa Sembalun Timbal Gading, Desa Sembalun, Desa Sajang, Desa Sembalun Lawang, dan Desa Bilok Petung.

"BNI menjadi koordinator pembangunan 700 unit Huntara, kami berkolaborasi dengan Bank BTN, PT Telkom. Untuk proses konstruksinya berkolaborasi dengan PT Wijaya Karya dan PT Waskita Karya. Huntara juga langsung mendapatkan penerangan dengan teralirkannya listrik oleh PLN," katanya, Selasa (23/10/2018).

Catur mengemukakan setiap unit Huntara setidaknya membutuhkan dana berkisar mulai dari Rp9,8 juta sampai dengan Rp10 jutaan. Bangunan yang menggunakan spesifikasi baja ringan ini setiap unitnya memiliki luas 4,8 m2.

Menurut Catur, Huntara juga khusus dipersiapkan bagi masyarakat yang belum bisa kembali ke rumah masing-masing. Apalagi, mengingat periode akhir tahun akan masuk musim penghujan. "Kasihan nanti kalau sudah mulai hujan di sini dan masyarakat masih di tenda. Jadi setidaknya Huntara bisa menjadi solusi jangka pendek," ujar Catur.

Sementara itu, sejak awal masa pemulihan, BUMN terus mempercepat pemulihan berbagai macam layanan untuk masyarakat terdampak gempa. Seperti layanan telekomunikasi, energi, perbankan, kelistrikan, bantuan logistik, pelayaran, penerbangan hingga kesehatan.

Sebelumnya, usai bencana melanda NTB, sejumlah BUMN juga sempat menyalurkan tenda-tenda darurat sebagai hunian sangat sementara sebelum unit-unit Huntara berdiri. BNI sendiri mengirimkan tenda ukuran 4 x 6 m2 dan tenda peleton berukuran 14 x 6 m2 di Sembalun.

BNI juga telah menyediakan 2 unit Dapur Umum, membangun 3 unit Sekolah Darurat, dan mengirimkan 50 relawan. Sebanyak 10.000 selimut dan ratusan jaket pun terkirim sejak masa tanggap darurat dimulai.

Tag : bumn, bni
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top