Di Umur Berapa Sebaiknya Berinvestasi di Instrumen Berisiko Tinggi?

Barulah kelak 5 tahun menjelang pensiun, seseorang harus lebih berhati-hati untuk mencari instrumen investasi yang memiliki nilai risiko rendah, namun tetap menguntungkan.
M. Taufikul Basari | 30 November 2018 13:44 WIB
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Jumat (9/11/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi paling baik adalah yang dilakukan lebih awal. Perencana keuangan pada umumnya menyarankan pada usia di bawah 30 tahun, sebaiknya seseorang agresif mencari instrumen investasi yang berisiko tinggi, dan menawarkan return tinggi, seperti saham.

Barulah kelak 5 tahun menjelang pensiun, seseorang harus lebih berhati-hati untuk mencari instrumen investasi yang memiliki nilai risiko rendah, namun tetap menguntungkan.

Berinvestasi lewat instrumen saham secara tidak langsung menjadikan seseorang layaknya “pemilik” dari badan usaha atau perseroan yang beli sahamnya. Alhasil, ia akan mendapatkan dua jenis keuntungan: capital gain dan dividen, serta berhak hadir dalam rapat umum pemegang saham.

Capital gain adalah keuntungan yang didapat pemegang saham saat melepaskan sahamnya ke pasar. Sedang dividen, adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan pada pemegang saham setelah mencapai jangka waktu tertentu.

Dividen bisa berupa dividen tunai yang diberikan dalam bentuk uang pada pemegang saham, atau bisa juga diberikan dalam dividen saham yang bisa meningkatkan kepemilikan saham seseorang di perusahaan tersebut.

  1. Mangachendrayani, Head of Branch Coordinator PT Reliance Sekuritas Indonesia (RELI), mengatakan generasi muda harus tahu bahwa investasi di pasar modal sesungguhnya mudah dan murah.

Di sisi lain, usia muda merupakan waktu paling tepat untuk mulai mengalokasikan uang dalam skema investasi. Saat belum berkeluarga dan belum ada tanggungan berbagai cicilan, berarti masih ada nominal yang cukup besar yang bisa disisihkan dari penghasilan.

Mangachendrayani mengatakan itulah kenapa RELI gencar mengincar kalangan muda dengan mengadakan Sekolah Pasar Modal (SPM) di kampus Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta (APP). Tercatat 50 mahasiswa mengikuti SPM hasil kolaborasi antara Master Mind Trader, RELI dan BEI.

“Master Mind Trader dan RELI, bersama-sama menyampaikan meteri mengenai pengenalan produk pasar modal, dan cara prosedur berinvestasi di pasar modal,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/11/2018).

Selain di APP, SPM hasil kerja sama RELI dan Bursa Efek Indonesia (BEI) juga diadakan di Universitas Darul Ulum Jombang.

Branch Manager RELI Surabaya Gubeng Samsuri menjelaskan bahwa SPM merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk mengedukasi publik seputar pasar modal.  Dalam acara yang dihadiri puluhan peserta itu RELI dan BEI menyampaikan materi soal perkembangan pasar modal, dan juga peluang mendapatkan imbal hasil dengan berinvestasi di pasar modal.

“Acara digelar untuk memberi pemahaman seputar pasar modal, juga memberi wawasan mengenai peluang investasi pasar modal. Sekaligus, di acara itu, ada sesi untuk membuka account dan transaksi. RELI juga memberi informasi sejumlah produk lain milik holding, yakni Reliance Capital Management (RCM),” kata Samsuri.

Tag : investasi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top