The Fed Kerek Suku Bunga Acuan, Proyeksikan Sedikit Penaikan Pada 2019

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan moneter yang berakhir pada Rabu (19/12/2018) waktu setempat (Kamis dini hari WIB).
Renat Sofie Andriani | 20 Desember 2018 06:05 WIB
the Federal Reserve di Washington D.C. - Ilustrasi/en.wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan moneter yang berakhir pada Rabu (19/12/2018) waktu setempat (Kamis dini hari WIB).

Pada saat yang sama, The Fed juga memproyeksikan langkah penaikan suku bunga yang lebih sedikit pada tahun depan dan mengisyaratkan siklus pengetatan yang mendekati akhir dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan dan perlambatan pertumbuhan global.

Seperti yang telah diperkirakan, para pembuat kebijakan mengerek suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 2,25%-2,50%. Ini adalah langkah penaikan keempat kalinya sepanjang 2018.

Sementara itu, proyeksi terbaru yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan para pembuat kebijakan memperkirakan dua kali penaikan suku bunga pada 2019 dan satu kali penaikan pada 2020.

Ini berbeda dengan proyeksi sebelumnya pada September yang mengindikasikan tiga penaikan suku bunga tahun depan dan satu kali penaikan pada tahun berikutnya. Perubahan ini seakan mencerminkan erosi keyakinan dalam hal prospek perekonomian.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis setelah pertemuannya berakhir, The Fed mengatakan risiko terhadap ekonomi tampak kurang lebih seimbang. Namun otoritas moneter AS tersebut akan terus memantau perkembangan ekonomi dan keuangan global serta menilai implikasinya terhadap prospek ekonomi.

Ekonomi AS sendiri dinyatakan telah tumbuh dengan tingkat yang kuat dan pasar kerja terus membaik. The Fed juga mencatat bahwa “sedikit” kenaikan suku bunga secara bertahap akan diperlukan. Hal ini mengindikasikan persiapannya untuk menghentikan menaikkan biaya pinjaman.

Keputusan The Fed untuk kembali menaikkan biaya pinjaman kemungkinan akan menyulut kekesalan Presiden AS Donald Trump, yang telah berulang kali mengkritik langkah pengetatan The Fed dan menilainya mengacaukan ekonomi.

Penaikan suku bunga oleh The Fed dilakukan guna mengurangi dorongan yang diberikan kebijakan moneter terhadap ekonomi. Ekonomi dinilai tumbuh lebih cepat dari apa yang dilihat oleh para pembuat kebijakan sebagai tingkat yang berkelanjutan.

Bagaimana pun, ada kekhawatiran bahwa perekonomian Negeri Paman Sam bisa bergejolak pada tahun depan, ketika dorongan fiskal dari pengeluaran dan paket pemotongan pajak senilai US$1,5 triliun memudar dan ekonomi global melambat.

The Fed juga membuat penyesuaian teknis, dengan menaikkan suku bunga yang dibayarkannya atas cadangan bank di bank sentral itu sebesar hanya 20 basis poin, demi memberikan kontrol yang lebih baik seputar suku bunga dan menjaganya tetap dalam kisaran yang ditargetkan.

Kendati demikian, arah kenaikan suku bunga yang digambarkan dirasa lebih agresif daripada yang pasar perkirakan. Sebelum pertemuan ini, para pedagang berspekulasi bahwa The Fed akan menyampaikan tidak lebih dari satu kenaikan suku bunga pada tahun depan.

Bursa saham AS melorot pascarilis pernyataan The Fed. Sementara itu, dolar AS, yang melemah sebelum keputusan, kembali mendapatkan sedikit kenaikannya terhadap sebagian besar mata uang utama.

“Saya rasa pasar ingin mendengar lebih banyak dalam hal jeda [pengetatan suku bunga],” kata Jamie Cox, managing partner di Harris Financial Group, Virginia, seperti dilansir Reuters.

“Ini tidak se-dovish seperti yang diperkirakan, tetapi saya yakin The Fed pada akhirnya akan mundur lebih jauh saat kita memasuki tahun baru.”

Tag : Kebijakan The Fed
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top