Modal Bank Dinilai Masih Tebal

Modal perbankan dinilai masih cukup tebal dalam menyerap risiko serta melakukan ekspansi usaha meskipun setelah melewati periode yang berat dalam beberapa tahun terakhir.
Ipak Ayu H Nurcaya | 14 Januari 2019 17:39 WIB
Ilustrasi perbankan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Modal perbankan dinilai masih cukup tebal dalam menyerap risiko serta melakukan ekspansi usaha meskipun setelah melewati periode yang berat dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan, pada 2018 fungsi intermediasi terjaga dengan baik dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,9%, melesat dari tahun sebelumnya 8,24%.

Akselerasi pembiayaan itu diikuti dengan profil risiko yang terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 2,37% dengan NPL net 1,14%.

Likuiditas perbankan juga masih memadai, meskipun rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) meningkat menjadi 92,6%. Hal itu dapat dilihat dari ekses likuiditas yang tercatat Rp529 triliun.

“Dari kondisi tersebut, permodalan bank terpantau masih cukup memadai dalam menghadapi tantangan ke depan. CAR [capital adequacy ratio] perbankan tercatat sebesar 23,32%,” katanya di Jakarta, pekan lalu.

Tahun ini, Wimboh memprediksi kredit tumbuh 13,1%. Adapun, dana pihak ketiga diproyeksi naik sekitar 8%-10%. Optimisme itu diperlihatkan oleh pelaku industri perbankan yang tercermin dalam rencana bisnis bank 2019 yang menargetkan kredit dan dana masing-masing tumbuh 12,06% dan 11,49%.

Sementara itu, melihat dari catatan OJK per Oktober 2018, CAR industri perbankan secara umum menunjukkan posisi 22,97%, menyusut dari posisi Oktober 2017 sebesar 23,42%.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menambahkan, dengan refleksi CAR secara keseluruhan pada tahun lalu 23,32%, fundamental perbankan masih positif. Kondisi itu diyakini cukup untuk mengejar target pertumbuhan kredit tahun ini yang ditetapkan 13%.

AMBIL PELUANG

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk. Parwati Surjaudjaja mengatakan bahwa pada tahun ini perseroan masih akan menjaga CAR dalam kisaran 17%. Pasalnya, selama masih berada pada angka tersebut, atau tier 1 di atas 19%, perseroan diklaim masih cukup kuat.

Menurutnya, dengan permodalan yang ada perseroan masih bisa mengoptimalkan segala peluang yang ada. “Kami mau optimalkan saja, sekarang CAR relatif pas karena cukup untuk mengambil peluang juga.”

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menyampaiakn CAR perseroan saat ini sebesar 21,6%. Dengan asumsi pertumbuhan 16,5%—17%, pemodalan dinilai masih sangat kuat. Bahkan kelebihan modal sekitar 4% atau senilai Rp30 trilium—Rp35 triliun.
“Jadi CAR tidak ada isu, LDR yang masih akan terus kami jaga karena dana valas turun akibat outflow tinggi. Sekarang harapannya inflow masuk sehingga DPK bisa tumbuh 10% dan kredit pada 12% plus minus 1,” ujarnya.

Tag : perbankan
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top