Bisnis Properti Lesu, Ekspansi KPR Melambat

Pertumbuhan bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) pada kuartal I/2019 melambat. Rendahnya permintaan membuat kredit kurang bergeliat.
Ipak Ayu H. N. & Maria Elena
Ipak Ayu H. N. & Maria Elena - Bisnis.com 16 Mei 2019  |  12:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) pada kuartal I/2019 melambat. Rendahnya permintaan membuat kredit kurang bergeliat.

Data Analisis Uang Beredar Bank Indonesia per Maret 2019 menunjukkan bahwa kredit konsumsi tumbuh 8,90% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mencapai 9,60% secara tahunan. 

Pemicu perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi perbankan adalah KPR. Per Maret 2019, kredit properti yang terdiri atas KPR, kredit pemilikan apartemen (KPA), dan kredit konstruksi tercatat tumbuh 17,10% secara tahunan. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kredit properti pada bulan sebelumnya yang mencapai 17,90% secara tahunan. 

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bahwa penjualan properti memang terlihat menurun pada kuartal I/2019. Salah satu indikator perlambatan sektor properti bisa dilihat dari produk baru yang diluncurkan oleh pengembang yang berkurang pada kuartal I/2019. Secara historis, kondisi sektor properti yang memang sudah melambat sejak lima tahun terakhir.

"Oleh karena penjualan belum bagus, rata-rata pengembang fokus menjual produk existing daripada meluncurkan produk baru," katanya kepada Bisnis, Selasa (14/5/2019).

Namun, jika dibagi per segmen, Ferry mengatakan penjualan produk properti untuk segmen menengah ke bawah masih lebih baik jika dibandingkan dengan produk segmen menengah ke atas.

Selain itu, indikator lainnya menurut Ferry adalah sudah kurang menariknya properti dijadikan sebagai produk investasi. Dengan ekspektasi return yang tidak terlalu tinggi, produk investasi dengan return tinggi akan lebih dilirik, misalnya saja produk dari sektor keuangan.

"Sekarang kondisinya lebih kepada ekonomi. Return properti sekitar 6%, jika pasar sewa tidak terlalu aktif return juga tidak bisa terlalu tinggi. Barang yang mau disewa kan banyak, saingannya banyak, sementara harga sewa tidak bisa dipatok terlalu tinggi" jelas Ferry.

Ferry memproyeksikan akselerasi pertumbuhan sektor properti akan membutuhkan waktu, barangkali sekitar enam bulan hingga setahun ke depan. Dia melanjutkan, sebenarnya pengembang juga sudah bisa melihat ada momentum dan sindikasi pasar akan bergerak. Namun dalam jangka pendek, Ferry menilai pergerakan ini tidak akan signifikan, artinya masih akan sama dengan kondisi saat ini.

Adapun dari pelaku industri perbankan sepakat meski mengakui perlambatan yang terjadi, tetapi dengan berbagai peluang yang ada mereka optimis target dua digit masih bisa dicapai sampai akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti, kpr

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top