BNI dan Citibank Pacu Pendapatan Nonbunga dari Trade Finance

Segmen bisnis trade finance dinilai masih berpotensi mengalami pertumbuhan yang lebih signifikan hingga akhir tahun 2019 seiring dengan potensi perbaikan perekonomian.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  19:06 WIB
BNI dan Citibank Pacu Pendapatan Nonbunga dari Trade Finance
Pengunjung melakukan transaksi saat berbelanja batik di booth BNI saat acara Gelar Batik Nusantara di Jakarta, Rabu (8/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Perbankan memacu segmen bisnis pembiayaan perdagangan (trade financing) sebagai salah satu kontributor pendongkrak pendapatan operasional.

Hal ini antara lain disampaikan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan Citibank N.A., Indonesia yang membukukan kenaikan dua digit dari pendapatan nonbunga (fee based income/FBI) dari trade finance.

Direktur Treasuri dan Internasional Bank BNI Rico Rizal Budidarmo menyebutkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dari pembiayaan perdagangan mengalami peningkatan setiap tahun.

“Per semester I/2019, pertumbuhan FBI dari Trade Finance meningkat sebesar 15,8 persen  secara year on year,” katanya kepada Bisnis, Senin (12/8/2019).

Kontribusi FBI dari trade finance terhadap pendapatan fee keseluruhan BNI per paruh pertama tahun 2019 mencapai 12 persen dan termasuk dalam tiga besar penyumbang pendapatan nonbunga.

Mengutip data dalam data paparan investor BNI, total  pendapatan komisi BNI per akhir semester I/2019 mencapai Rp5,38 triliun, tumbuh 11,6 persen (YoY) dari akhir Juni 2018 yang berjumlah Rp4,82 triliun.

Dua kontributor terbesar pendapatan fee BNI berasal dari segmen konsumer dan ritel, yakni account maintenance sebesar Rp923 miliar, naik 11,3 persen (YoY), serta dari dari card business sebesar Rp792 miliar, naik 12,9 (YoY).

Adapun, penopang yang ketiga terbesar yakni dari business banking khususnya trade finance sebesar Rp623 miliar. Pendapatan komisi dari pembiayaan perdagangan tersebut sejalan dengan kenaikan transaksi perdagangan internasional menjadi US$25,3 miliar, naik 10,6 persen.

“Secara tren selama 5 tahun terakhir, pencapaian FBI Trade Finance selalu meningkat setiap tahun,” kata Rico.

Dia menjelaskan, perseroan mempertahankan pertumbuhan pendapatan komisi dari trade finance lewat dua strategi utama. Pertama, intensifikasi, yakni dengan mengoptimalkan fasilitas pembiayaan perdagangan dari nasabah. Selain itu, Bank BNI juga menerapkan strategi ekstensifikasi yakni dengan akuisisi nasabah baru melalui skema close loop. “Sehingga antara buyer dan seller diupayakan semua bertransaksi di BNI.”

Tak hanya BNI, Citibank N.A., Indonesia juga mengoptimalkan layanan bisnis trade finance untuk menopang pendapatan nonbunga.

Dalam paparan kinerja keuangan Citibank disampaikan pendapatan dari trade finance menjadi satu dari tiga kontributor utama yang membuat laba perseroan melejit 97 persen menjadi Rp1,6 triliun pada akhir semester I/2019.

Chief Executive Officer Citibank Indonesia Batara Sianturi mengatakan pendorong pertumbuhan laba bersih 97 persen ada tiga yakni peningkatan pendapatan perdagangan bersih atau net trading income [NTI], pendapatan bunga bersih serta karena turunnya beban cadangan kerugian penurunan nilai [CKPN] kredit.

Pendapatan bunga bersih tercatat hanya tumbuh 8 persen (YoY) atau naik sebesar Rp164 miliar sedangkan pendapatan nonbunga dari pembiayaan perdagangan tumbuh sebesar Rp542 miliar atau lebih dari 100 persen secara tahunan.

“Untuk trading income kami naik dari Rp500 miliar pada Juni 2018 menjadi sekitar Rp1 triliun pada Juni tahun ini,” kata Batara.

Segmen bisnis trade finance dinilai masih berpotensi mengalami pertumbuhan yang lebih signifikan hingga akhir tahun 2019 seiring dengan potensi perbaikan perekonomian. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top