Kebijakan Suku Bunga BI Diperkirakan Tunggu Sinyal The Fed

Berkaca dari pemangkasan suku bunga acuan tak terduga pada bulan lalu, ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menyatakan, Bank Indonesia akan sangat berhati-hati dalam memangkas suku bunga bulan ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 18 September 2019  |  14:53 WIB
Kebijakan Suku Bunga BI Diperkirakan Tunggu Sinyal The Fed
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia dipandang masih butuh sinyal dari The Fed sampai besok sebelum memangkas suku bunga acuan.

Berkaca dari pemangkasan suku bunga acuan tak terduga pada bulan lalu, ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menyatakan, Bank Indonesia akan sangat berhati-hati dalam memangkas suku bunga bulan ini.

"Saya melihat ini 50:50, BI akan menunggu hasil suku bunga The Fed besok pagi waktu Jakarta," jelas Wisnu, Rabu (18/9/2019).

Wisnu menilai bulan ini sampai akhir tahun ini BI kemungkinan besar masih akan memangkas satu kali suku bunga acuan. Dia memprakirakan persentase bagus untuk suku bunga acuan tahun ini adalah 5,25%.

"BI kelihatannya fokus untuk mendorong pertumbuhan. Jadi masih ada kemungkinan turun," sambungnya.

Wisnu juga menyebut pemangkasan sampai akhir tahun ini sejalan dengan permintaan Presiden Trump kepada The Fed untuk menurunkan suku bunga. Apalagi, setelah turunnya suku bunga acuan dari The Fed.

Sementara itu, menurut Head of Research Macroeconomics and Financial Sector Policy, LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Febrio N. Kacaribu menyatakan ada indikasi Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga.

Dia menyatakan, meskipun ketegangan perang dagang telah berkurang akhir-akhir ini, tetapi tensi ketidakpastian di pasar global masih tetap tinggi seiring dengan perkembangan ekonomi global menuju kuartal III/2019.

Dia menyatakan, perlambatan ekonomi, terutama di beberapa negara maju, India, dan China menyebabkan melemahnya aktivitas manufaktur global. Imbasnya juga menyebabkan gejolak pasar keuangan global dan mendorong pergeseran portofolio ke aset safe-haven seperti komoditas emas. Akibatnya, rupiah melemah sekitar 2% terhadap dolar bulan lalu, menjadi Rp14.300, setidaknya sampai pertengahan Agustus 2019.

Febrio menjelaskan, keputusan tingkat suku bunga The Fed mendatang menjadi semakin tidak pasti dibandingkan dengan sebelumnya.

Febrio menilai persepsi pasar pada kemungkinan penurunan suku bunga saat pertemuan FOMC telah menurun signifikan dalam beberapa hari terakhir. Data yang lebih baik dari yang diperkirakan pada kegiatan ekonomi AS baru-baru ini memiliki banyak pengaruh terhadap hal ini.

"Kami melihat bahwa The Fed akan terus melanjutkan sikap kebijakan “dovish”-nya. Akan tetapi memang untuk pertemuan FOMC bulan ini, kemungkinan penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin semakin tidak pasti menunjukkan tambahan ketidakpastian kebijakan moneter AS," jelasnya.

Kondisi ini membuat Febrio yakin bahwa BI perlu membaca pergerakan utamanya perihal tren arus modal masuk yang berkelanjutan akan semakin menurunkan suku bunga pasar. Selain itu juga memberikan ruang lebih bagi BI untuk kembali memangkas tingkat suku bunga.

Dia beralasan, perbedaan bunga saat ini masih cukup menarik untuk menghasilkan aliran modal masuk. Oleh sebab itu, BI harus menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% bulan ini.

"Ini sebagai langkah awal untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global dan mendorong pertumbuhan domestik," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suku bunga acuan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top