BNI Pacu Penyaluran KPR Kejar Target Akhir Tahun

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. membidik pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh di atas 10% secara tahunan (year-on-year/yoy). Per Agustus 2019, bank melaporkan pertumbuhan lebih dari 9% yoy.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  09:58 WIB
BNI Pacu Penyaluran KPR Kejar Target Akhir Tahun
Anggoro Eko Cahyo yang juga Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia memberikan paparan dalam dalam seminar Tren Ekonomi Digital: Era Transaksi Elektronik, Peluang, dan Tantangan, di Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. membidik pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh di atas 10% secara tahunan (year-on-year/yoy). Per Agustus 2019, bank melaporkan pertumbuhan lebih dari 9% yoy.

Direktur Bisnis Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, saat ini perusahaan fokus pada pembiayaan KPR untuk pembelian rumah melalui mitra pengembang. Selain itu, manajemen juga mengoptimalkan potensi dari nasabah payroll dan debitur, baik kredit konsumsi maupun komersial.

“Ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko supaya NPL [non-performing loan] BNI Griya tetap dapat kami kendalikan serendah mungkin,” katanya kepada Bisnis, Rabu (2/10/2019).

Saat ini rasio kredit bermasalah  KPR kurang dari 3%. Turun dibandingkan dengan posisi paruh pertama 2019 sebesar 3,4%.

Sementara itu pertumbuhan Agustus cenderung menguat dibandingkan dengan capaian Juni 2019. Pada penghujung paruh pertama tahun ini bank membukukan pertumbuhan KPR sebesar 8,9% yoy menjadi Rp42,45 triliun.

Angka tersebut menyumbang 7,7% terhadap total portofolio kredit hingga semester I/2019. KPR menjadi satu segmen kunci dalam bisnis kredit konsumsi bank.

Adapun Bank Indonesia mencatat permintaan KPR tumbuh melambat. Tren tersebut berlanjut hingga Agustus 2019, di mana kredit properti naik 11,3% yoy, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, 12,3% yoy.

Berdasarkan catatan bank sentral, hal itu utamanya disebabkan oleh perlambatan permintaan KPR tipe 22/70 di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top