Industri Asuransi Hadapi Tantangan Minimnya Talenta

Para pelaku bisnis asuransi merasa khawatir akan sulitnya menarik talenta-talenta untuk masuk ke industri asuransi pada masa yang akan datang.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  13:02 WIB
Industri Asuransi Hadapi Tantangan Minimnya Talenta
Kaum milenial - Istimewa
Bisnis.com, JAKARTA — Para pelaku bisnis asuransi merasa khawatir akan sulitnya menarik talenta-talenta untuk masuk ke industri asuransi pada masa yang akan datang.
Berdasarkan hasil survey PwC mengenai kondisi industri asuransi di Indonesia saat ini, responden yang terdiri dari pelaku bisnis asuransi umum, jiwa, dan broker menyatakan bahwa kurangnya talenta-talenta berkualitas merupakan tantangan terbesar dalam pelaksanaan fungsi keuangan industri asuransi.
Dalam survey tersebut, pelaku industri menyatakan keinginannya untuk mengembangkan fungsi keuangan menjadi sesuatu yang lebih analitis dan dapat lebih terlibat dalam mendukung keputusan bisnis. Namun, sebagian besar perusahaan asuransi setuju bahwa kurangnya talenta berkualitas menjadi penghambat terbesar dari rencana tersebut.
Sebanyak 46% responden menyatakan bahwa ke depannya mereka akan sangat kesulitan menarik talenta-talenta baru untuk masuk ke industri asuransi. Kondisi tersebut disertai dengan kekhawatiran akan sulitnya mempertahankan talenta eksisting di industri asuransi.
Adapun, 26% responden lain menyatakan bahwa tantangan tersebut berada pada tingkat sulit, sehingga dapat dikatakan bahwa 72% mengkhawatirkan kondisi yang akan datang. Meskipun begitu, terdapat 9% pelaku industri yang optimistis untuk menarik talenta-talenta baru untuk masuk ke bisnis asuransi.
Berdasarkan laporan tersebut, kekhawatiran akan rekrutmen talenta berkualitas pada masa yang akan datang muncul karena terus bertambah kompleksnya proses bisnis asuransi. Lalu, penambahan berbagai peraturan dan implementasi  Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) yang mengharuskan perusahaan asuransi meningkatkan fungsi keuangannya turut menjadi alasan.
"Perang talenta merupakan tantangan yang signifikan; Paket remunerasi yang menarik dan peluang pengembangan akan menjadi faktor penentu utama untuk memenangkan perang talenta," tertulis dalam laporan tersebut.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menjelaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan menjadi hal penting untuk meningkatkan literasi dan penetrasi asuransi. Namun, hal tersebut masih berbenturan dengan minat tenaga kerja untuk berkecimpung di industri asuransi.
"Perlu diakui bahwa industri asuransi belum menjadi pilihan utama bagi para pencari kerja saat ini," ujar Dody kepada Bisnis, Jumat (4/10).
 
Oleh karena itu, menurut dia, Dewan Asuransi Indoensia (DAI) bersama asosiasi-asosiasi usaha perasuransian dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak lama telah melakukan kampanye pengenalan industri asuransi kepada siswa dan mahasiswa. Upaya tersebut diharapkan dapat menarik para Gen Z untuk masuk memberikan warna lebih bagi industri asuransi ke depan.
 
Selain soal regenerasi, Dody pun menilai bahwa talenta di industri asuransi ke depannya harus mencerminkan etika jujur dan berintegritas agar kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi semakin meningkat, alih-alih stigma menjadi semakin kuat akibat praktik bisnis dan perilaku para insan industrinya.
Dody pun menjelaskan bahwa saat ini tidak terdapat lagi regulasi yang mengatur alokasi biaya minimal dari perusahaan asuransi untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Seperti halnya alokasi dana untuk riset, pengembangan, dan inovasi produk, alokasi dana pelatihan SDM pun menurutnya perlu diperhatikan.
 
"Menurut kami perlu ada alokasi dana untuk pengembangan [kualitas] SDM dengan kewajiban agar ada peningkatan kapabilitas SDM tersebut," ujar Dody.
 
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, Dody menilai bahwa ke depannya perusahaan-perusahaan yang adaptif akan lebih mampu bertahan, tumbuh, dan memimpin industri. Jika industri tidak proaktif menjaring talenta dan memastikan perkembangannya maka kekhawatiran yang tergambar dari survey tersebut mungin akan terjadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top