Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Skandal Pencucian Uang : Direksi Westpac Berupaya Selamatkan Jabatan

Westpac telah kehilangan kapitalisasi pasarnya sebesar 7,5 miliar dolar Australia (AUD) sejak agen kejahatan keuangan setempat menjatuhkan gugatan perdata pada 20 November terhadap bank ritel terbesar kedua di Australia itu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 November 2019  |  15:59 WIB
Ilustrasi - Luwuraya
Ilustrasi - Luwuraya

Bisnis.com, JAKARTA - Ketika dampak dari dugaan pelanggaran hukum pencucian uang yang terburuk di Australia, Chairman Westpac Banking Corp. Lindsay Maxsted hanya memiliki waktu 2 pekan untuk memenangkan dukungan para pemegang saham dan terhindar dari kekecewaan dewan direksi yang akan digulingkan.

Westpac telah kehilangan kapitalisasi pasarnya sebesar 7,5 miliar dolar Australia (AUD) sejak agen kejahatan keuangan setempat menjatuhkan gugatan perdata pada 20 November terhadap bank ritel terbesar kedua di Australia itu.

Dilansir melalui Bloomberg, gugatan diberikan atas tuduhan pelanggaran undang-undang pencucian uang sebanyak 23 juta kali, termasuk kelalaian perusahaan untuk mendeteksi pembayaran yang ditujukan kepada sindikat pornografi anak di Filipina.

Sejumlah menteri pemerintah Australia telah menuntut pertanggungjawaban, dan Westpac kini dihadapi dengan penyelidikan terpisah oleh regulator perbankan dan sekuritas yang dapat menyebabkan denda yang besar.

Dalam pertemuan umum tahunan yang genting pada 12 Desember 2019, Maxsted dan perwakilan bank lainnya akan bertemu dengan investor selama beberapa hari untuk menjelaskan bagaimana mereka mengatasi krisis.

Nasib Chief Executive Officer Brian Hartzer, 52 tahun, bergantung pada bagaimana pertemuan itu berlangsung.

"Skala kasus ini sangat besar," kata Warren Staples, seorang dosen bisnis senior di RMIT University Melbourne, yang berspesialisasi dalam kepatuhan dan tata kelola, dikutip melalui Bloomberg, Senin (25/11/2019).

Dia memprediksikan bahwa Hartzer kemungkinan akan digulingkan dari jabatannya, bahkan sebelum pertemuan tahunan itu selesai.

Gugatan terhadap Westpac menggarisbawahi, bahwa antara 2013 dan 2019, bank telah gagal melaporkan lebih dari pembayaran masuk dan keluar dari Australia sebesar 11 miliar dolar Australia.

Pembayaran tersebut sebagian besar menggunakan sistem antar bank yang awalnya dirancang untuk memfasilitasi transfer dana pensiun.

KELALAIAN PENGAWASAN

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Australia (Austrac) mengatakan Westpac tidak menyimpan catatan yang layak atau memiliki pengetahuan yang cukup tentang ke mana uang itu mengalir.

"Pelanggaran itu bersifat sistemik dan hasil dari ketidakpedulian manajemen senior dan pengawasan yang tidak memadai oleh dewan," kata Austrac.

Tuduhan paling serius terkait dengan produk konsumen terpisah yang dikenal sebagai LitePay.

Austrac mengatakan bahwa Westpac gagal melakukan uji tuntas yang layak terhadap 12 nasabah yang akunnya menunjukkan pembayaran bernilai rendah berulang-ulang ke negara-negara di Asia Tenggara termasuk Filipina, meskipun perusahaan tahu transaksi semacam itu merupakan tanda bahaya bagi kemungkinan eksploitasi anak.

Dalam satu kasus, seorang nasabah mentransfer uang kepada seseorang di Filipina yang kemudian ditangkap karena perdagangan anak dan eksploitasi yang melibatkan kasus pornografi anak.

Kurangnya pengawasan pembayaran pelanggan terkait dengan perdagangan anak dan pornografi anak yang memicu kehebohan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison pekan lalu bersikeras bahwa dewan direksi harus mempertimbangkan masa depan Hartzer,.

Sementara itu, Menteri Keuangan Josh Frydenberg pada akhir pekan lalu mengatakan dia akan berbicara dengan Maxsted dan Hartzer guna memperjelas keseriusan tuduhan tersebut.

Saham Westpac turun 1,3% pada Senin (25/11/2019), terus turun ke level 8% sejak skandal tersebut terungkap ke publik dan bank kini berusaha untuk mengatasi kerugian.

Rencana Westpac ke depan adalah akan menutup produk LitePay, menammbah 200 orang ke dalam tim penanganan kejahatan keuangan yang beranggotakan kini 750 orang, berinvestasi dalam cross-border data sharing, dan mengalokasikan dana 18 juta dolar Australia untuk mengatasi pelecehan seksual anak-anak online di Filipina.

Pertanyaannya, apakah strategi itu cukup untuk memenangkan kepercayaan investor.

Asosiasi Pemegang Saham Australia pekan lalu mengatakan pihaknya tidak menyangka dengan pelanggaran pelaporan yang menjerat Westpac dan akan memutuskan jawabannya setelah bertemu Maxsted.

Adapun, Dewan Investor Superannuation Australia (ACSI), yang anggotanya mengelola aset lebih dari 2,2 triliun dolar Australia, akan bertemu dengan perwakilan Westpac pekan ini.

Seorang juru bicara mengatakan ACSI belum memutuskan apakah Hartzer atau Maxsted yang harus mempertahankan pekerjaan mereka.

Pihak Westpac juga bertemu dengan perusahaan penasihat pemegang saham, Ownership Matters dan Institutional Shareholder Services Inc., yang panduannya kepada manajer uang institusional tentang cara menarik dukungan sering kali sangat penting.

Selain merusak reputasi perusahaan, Westpac juga dihadapi dengan prospek denda jutaan dolar.

Pada kasus lain, Commonwealth Bank of Australia didenda 700 juta dolar AS tahun lalu atas lebih dari 53.000 pelanggaran aturan pencucian uang.

Jaksa Agung Christian Porter menyarankan pekan lalu bahwa penyelesaian kasus Westpac dapat berakhir dengan denda yang lebih tinggi.

Menurut Menteri Keuangan Frydenberg, Otoritas Regulasi Prudential Australia, yang juga mencermati kasus ini, dapat mengajukan ke pengadilan untuk denda hingga 500 juta dolar Australia.

Badan independen ini juga memiliki kekuatan untuk mendiskualifikasi dewan direksi dan eksekutif di Westpac.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pencucian uang
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top