Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengamat: Deposito Masih Andalan Likuiditas Perbankan

Pasalnya bank masih membutuhkan waktu penyesuaian terhadap tren penurunan suku bunga acuan dan infrastruktur teknologi belum berdampak optimal untuk menggaet dana murah.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 05 Desember 2019  |  20:30 WIB
 Ilustrasi deposito. - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi deposito. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Instrumen deposito masih menjadi andalan perbankan untuk menjaga kebutuhan likuiditas hingga tahun ini.

Pasalnya bank masih membutuhkan waktu penyesuaian terhadap tren penurunan suku bunga acuan dan infrastruktur teknologi belum berdampak optimal untuk menggaet dana murah.

Asisten peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dendy Indramawan mengatakan kondisi tersebut masih akan bertahan hingga akhir tahun. Pertumbuhan deposito masih menjadi penyokong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

“Karena itu secara komposisi dana murah masih akan sekitar 55 persen dan dana mahal 45 persen sampai akhir tahun,” katanya kepada Bisnis, Kamis (5/12/2019).

Pada tahun depan diperkirakan bank besar akan lebih leluasa menjaring dana murah. Sejumlah bank mempertontonkan inovasi teknologi sepanjang tahun ini. Hal tersebut juga didukung oleh otoritas melalui aturan yang menjadi pondasi digitalisasi perbankan Tanah Air.

Dendy melanjutkan bahwa pada dua tahun terakhir persaingan dana murah bukan terjadi antar bank saja. Perusahaan finansial berbasis teknologi (tekfin) yang memiliki fokus pada jasa sistem pembayaran ikut mengambil kue pasar perbankan.

“Saat shifting digital ini matang tahun depan, BUKU [bank umum kelompok usaha] III dan IV harusnya bisa dapat dana murah lebih tinggi,” jelas Dendy.

Namun, peneliti dari Ikatan Bankir Indonesia mengingatkan bahwa tidak semua bank akan mendapatkan kesempatan serupa. Bank bermodal inti kurang dari Rp5 triliun, atau BUKU I dan II belum banyak memiliki infrastruktur yang mendukung ekosistem digital.

Adapun secara industri, upaya bank menghimpun dana murah di tengah tren penurunan suku bunga acuan belum membuahkan hasil. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) rasio current account saving accounts (CASA) per Oktober 2019 turun menjadi 54,53 persen dari bulan sebelumnya 55,04 persen. Hal ini pun diikuti dengan rasio dana mahal yang naik dari 44,65 persen menjadi 45,19 persen.

Sejalan dengan kebijakan pelonggaran moneter Bank Indonesia, pertumbuhan deposito perbankan telah melambat. Namun giro dan tabungan kompak melakukan hal serupa, sehingga rasio dana murah tidak menunjukan gerakan positif pada kuartal terakhir tahun ini dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Mengutip data LPS, giro, satu komponen dana murah, mencatat perlambatan pertumbuhan tahunan cukup signifikan pada Oktober 2019. Pada bulan tersebut giro naik 4,2 persen yoy, sedangkan bulan sebelumnya 7,6 persen yoy.

Pada periode yang sama, tabungan secara konsisten membukukan perlambatan pertumbuhan sejak akhir kuartal II. Per Oktober 2019, tabungan tumbuh 6,2 persen yoy. Padahal sebelumnya, atau Mei 2019 sempat mencapai 8,2 persen yoy.

Deposito pada saat yang sama masih menjadi kontributor utama penjaga pertumbuhan dana konvensional perbankan. Per Oktober 2019, dana mahal ini naik 7,6 persen yoy, atau di atas pertumbuhan DPK yang sebesar 6,3 persen yoy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top