Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Tahan Suku Bunga, Penguatan Rupiah Jadi Faktor

Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menahan suku bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) karena melihat prospek apresiasi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir mampu menstimulus ekonomi 2020.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  15:39 WIB
Pengunjung meninggalkan kantor pusat Bank Indonesia di Jakarta, Indonesia, 17 Januari 2019. - REUTERS/Willy Kurniawan
Pengunjung meninggalkan kantor pusat Bank Indonesia di Jakarta, Indonesia, 17 Januari 2019. - REUTERS/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menahan suku bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) karena melihat prospek apresiasi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir mampu menstimulus ekonomi 2020.

Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardana menjelaskan, hasil keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,75% didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah atas dolar AS sejak akhir tahun lalu.

Dia memerinci, pada 22 Januari 2020, Rupiah menguat 1,74% (ptp) dibandingkan dengan level akhir Desember 2019. Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada 2019 yang tercatat 3,58% (ptp) atau 0,76% secara rerata. Kondisi apresiasi rupiah akan memberi dampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

“Kami memprakirakan, Indonesia Real Effective Exchange Rate [IDR REER] berada pada level 95, yang menandakan itu masih 5% di bawah, dan sesuai dengan ekspektasi pemangku kebijakan moneter,” tutur Wisnu, Kamis (23/1/2020).

Dia menjelaskan, apresiasi rupiah juga sangat dipengaruhi oleh inflasi global dan dinamika harga minyak dunia. Selanjutnya, dalam jangka waktu menengah, REER rupiah akan tetap berdiri pada sasaran level 90, atau 5% dari posisi REER saat ini.

Wisnu juga menilai, pemangku kebijakan moneter akan lebih ketat dalam memonitor fungsi intermediasi perbankan, yang mana saat ini menunjukkan permintaan pada kredit baru relatif masih rendah.

Oleh sebab itu, dia meyakini Bank Indonesia masih punya satu kali ruang pemangkasan sebesar 25 basis poin (bps) pada 2020 seperti halnya ruang pemangkasan yang dimiliki sejumlah bank sentral lain di Asia.

“Ke depan, BI akan melihat kondisi domestik maupun global untuk mengoptimalkan ruang kebijakan moneter yang akomodatif,” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Rupiah
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top