Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja 100 Hari Jokowi: Percepatan Serapan Anggaran Bakal Bantu Perbankan

Serapan anggaran yang dipercepat sejak awal tahun akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan membantu pelonggaran likuiditas perbankan.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  17:49 WIB
Kinerja 100 Hari Jokowi: Percepatan Serapan Anggaran Bakal Bantu Perbankan
Nasabah melakukan transaksi perbankan di galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/9/2018). - JIBI/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah diharap mempercepat serapan anggaran belanja pemerintah sejak awal tahun untuk mendukung kinerja sektor perbankan tahun ini. 

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Ryan Kiryanto mengatakan pemerintah perlu menjalankan hal tersebut sebagaimana telah diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Sekaligus melonggarkan likuiditas yang ketat sejak 2019 lalu," ujarnya Kamis (30/1/2020).

Ryan juga menilai kebijakan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin terhadap sektor perbankan selama 100 hari kerja dinilai sudah berada di jalur yang tepat. Menurutnya, kinerja sektor perbankan masih terjaga, begitu pula dengan kondisi stabilitas sistem keuangan (SSK) yang solid.

"Otoritas keuangan, seperti BI, OJK, dan LPS semakin sinkron dalam menjalankan tupoksi masing-masing, sehingga dapat dijaga dengan baik," ujarnya.

Sepanjang tahun lalu pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat sebesar 6,08 persen year-on-year.

Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh sektor konstruksi yang naik 14,6 persen yoy, dan rumah tangga tumbuh 14,6 persen yoy. Sejalan dengan itu, kredit investasi meningkat 13,2 persen yoy yang menunjukkan potensi pertumbuhan sektor riil ke depan.

Pertumbuhan kredit ini diikuti dengan profil risiko kredit yang terjaga. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan) gross perbankan tercatat rendah yaitu sebesar 2,5 persen atau net 1,2 persen.

Sementara itu, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) perbankan mencapai 23,3 persen, sedangkan rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) sebesar 93,6 persen, dan rasio margin bunga bersih (net interest margin) 4,9 persen, menyusut dari periode sebelumnya 5,1 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top