Jasa Pembayaran Elektronis Artajasa Topang Kinerja Bank dan Non-Bank

Perusahaan ini dinilai mampu menjadi katalis dalam peralihan sistem pembayaran konvensional ke digital dengan menyediakan jasa pembayaran elektronis dan switching yang memungkinkan transaksi elektronis terjadi dengan akurat, cepat, dan aman.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  17:00 WIB
Jasa Pembayaran Elektronis Artajasa Topang Kinerja Bank dan Non-Bank
Direktur Teknologi Informasi dan Operasional PT Artajasa Pembayaran Elektronis Teddy Sis Herdianto (kedua dari kiri) tengah memperlihatkan arus transaksi kepada Direktur Utama PT Artajasa Pembayaran Elektronis Bayu Hanantasena (ketiga dari kiri) - Bisnis/Muhammad Khadafi

Bisnis.com, JAKARTA-Jasa pembayaran elektronis dinilai mampu menjadi katalis dalam peralihan sistem pembayaran konvensional ke pembayaran digital yang memungkinkan transaksi bisa dilakukan dengan akurat, cepat, dan aman.

Selain itu selama 20 tahun berkiprah di Indonesia, jasa pembayaran elektronis Artajasa menunjang kinerja pelaku sistem keuangan baik bank dan nonbank.

Batara Sianturi, CEO Citibank Indonesia mengatakan bahwa pihak perbankan tidak bisa menangani semua transaksi di era digital ini sehingga kehadiran Artajasa sangat membantu dalam menangani semua transaksi tersebut.

“Artajasa menghadirkan konektivitas awalnya melalui ATM Bersama. Ini merupakan terobosan switching ke dunia digial. Kalau tidak ada sistem ini, Citibank harus melakukan konektivitas secara individual untuk top up dan payment. Karena sudah bisa difasilitasi oleh switching company kita cuma deal dengan Artajasa,” ujarnya, dalam Seminar Nasional Peran Transaksi Elektronis Terhadap Perekonomian Indonesia, Selasa (11/2/2020).

Selain sistem dopem digital, Artajasa juga menghubungkan pihak perbankan dengan pelaku perdagangan elektronik (e-commerce). Citibank, lanjutnya, tidak bisa perlu melakukan koneksi secara individual dengan pelaku perdagangan tersebut namun dapat dihubungkan oleh switching company seperti Artajasa.

Dia menjelaskan bahwa dari sisi suplai, di Indonesia, terdapat 120 bank, 200 pelaku e-commerce, 272 pemain teknologi finansial yang perlu melakukan kolaborasi di antaranya melalui switching company.

Sementara dari sisi permintaan, ada 83 juta penduduk yang tidak mengakses perbankan, serta terdapat 63 juta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang merupakan penggerak ekonomi terbesar.

Menurutnya, untuk mendorong pertumbuhan UMKM dalam dunia digital saat ini, perlu dipikirkan upaya untuk menekan biaya penggunaan jasa switching company. Biaya saat ini menurutnya masih sangat tinggi sehingga biaya tersebut mesti ditekan secara signifikan sebagaimana Thailand.

“Kalau kita ingin dorong 63 juta UMKM, bagaimana ekosistem ini jadi produktif dengan low cost sehingga kita jadi kompetitif seperti Thailand. Pengurangan biaya secara signifikan mendongkrak UMKM Indonesia sekaligus mendongkrak perekonomian Indonesia,” tuturnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, mengatakan bahwa Artajasa sebagai pemain lokal bisa lebih berperan di dunia digital karena berdasarkan penelitian lembaganya, UMKM di sektor pertanian yang mulai digulirkan oleh kaum muda membutuhkan inklusi keuangan dengan sistem pembayaran yang efisien.

Selain itu, sektor pendidikan pendidikan, kesehatan dan sektor teknologi finansial khususnya fintech agent akan mengubah prospek sistem pembayaran secara radikal. Sektor-sekotr ini mesti didorong dan ditangani oleh pemain lokal seperti Artajasa.

Berdasarkan penelitian Bisnis Indonesia Intellegence Unit (BIIU), pihak eksekutif bank swasta dan syariah di Indonesia menunjukkan bahwa Artajasa berperan meningkatkan layanan kepada nasabah dan mendukung digitalisasi bank yang memungkinkan perbankan meningkatkan pendapatan mulai fee based income hingga bunga.

Eksekutif bank swasta dan syariah juga memandang Artajasa sebagai partner dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

Kemudian wawancara mendalam yang dengan eksekutif perusahaan fintech menyebutkan keberadaan Artajasa memungkinkan mereka memberikan opsi layanan pembayaran lebih banyak dan interkoneksi dengan bank-bank di Indonesia. Dengan kata lain memberikan use case bagi user mereka.

Hal ini meningkatkan daya tarik bagi non-user untuk menjadi user aplikasi fintech. Selain itu, mereka melihat Artajasa sebagai partner dalam meningkatkan transaksi non-cash atau dalam menyukseskan Gerakan Nasional Nontunai

Dalam salah satu wawancara dengan eksekutif fintech remittance, Artajasa dinilai memiliki peran dalam memperlancar aliran dana remittance dari luar negeri ke Indonesia. Dengan kata lain, Artajasa memiliki peran dalam memperlancar masuknya devisa ke Indonesia.

Hasil sementara survei kepada end user, memperlihatkan respon positif terhadap layanan yang diberikan oleh Artajasa. Mereka merasakan layanan transaksi elektronis yang diberikan sudah cukup sesuai dengan kebutuhan dan aman. Hal ini tentunya menambah keyakinan end user untuk melakukan transaksi elektronik.

Eksekutif bank swasta dan syariah, fintech, serta akademisi berharap Artajasa dapat berinovasi dalam hal teknologi dan layanan yang mengikuti perubahan zaman. Sebagai contoh dengan mengimplementasikan QRIS, ataupun penerapan teknologi blockchain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sistem pembayaran, artajasa

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top