Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tahun Ini, Perlambatan Penerbitan L/C Masih Berlanjut

Adanya virus corona (Covid-19) turut berdampak dan sangat mempengaruhi kinerja beberapa sektor, di antaranya pariwisata, perhotelan, dan perdagangan, termasuk investasi.
Bank Mayapada/Ilustrasi-Bisnis.com-David Eka Issetiabudi
Bank Mayapada/Ilustrasi-Bisnis.com-David Eka Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA - Perlambatan penerbitan letter of credit (L/C) diprediksi masih akan berlanjut pada tahun ini, setelah kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2019 akibat perlambatan ekonomi global.

Presiden Direktur PT Bank Mayapada International Tbk. Haryono Tjahrijadi mengatakan perseroan tidak terlalu aktif dalam penerbitan L/C impor pada 2020 karena mayoritas nasabah melakukan transaksi impor tanpa membuka L/C. Pada tahun ini, penerbitan L/C pun masih mengalami tantangan karena transaksi impor yang menurun akibat kondisi ketidakpastian global.

Selain itu, adanya virus corona (Covid-19) turut berdampak dan sangat mempengaruhi kinerja beberapa sektor, di antaranya pariwisata, perhotelan, dan perdagangan, termasuk investasi.

"Dengan kondisi global saat ini, maka transaksi impor akan menurun dibanding dengan tahun lalu," kata Haryono kepada Bisnis.com, Jumat (14/2/2020).

Berdasarkan laporan publikasi perseroan per kuartal III/2019, irrevocable L/C luar negeri yang masih berjalan tercatat sebesar Rp653 juta, meningkat dari irrevocable L/C pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp409 juta.

Hal serupa juga disampaikan Pgs Direktur Utama sekaligus Direktur Keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. Ferdian Satyagraha.

"Memburuknya perekonomian internasional yang disebabkan adanya krisis global sejak tahun lalu memang mengakibatkan penurunan penggunaan L/C baik impor maupun ekspor," kata Ferdian.

Di samping itu, imbuhnya, tantangan lainnya yang dihadapi bank dalam menerbitkan L/C adalah biaya untuk yang dianggap lebih tinggi dibandingkan non-L/C.

Kendati memberikan jaminan yang lebih tinggi dan komprehensif, anggapan tingginya harga penerbitan L/C menyebabkan pelaku usaha cenderung mengalihkannya ke sistem pembayaran open account.

Ferdian mengatakan, meski menghadapi berbagai tantangan, perseroan menilai peluang meraih pendapatan dari bisnis L/C masih terbuka lebar. Perseroan pun menargetkan pada 2020 pertumbuhan bisnis ini dapat tumbuh 14 persen dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.

"Untuk proyeksi, [L/C] masih cukup besar dikarenakan masih ada pasar dari negara lain yang bisa digarap oleh pelaku usaha Jatim melalui Bank Jatim," katanya.

Perseroan mencatat pendapatan nonbunga berbasis komisi khusus trade finance dari sisi post shipment mencapai Rp1,46 miliar pada 2019. Tahun ini pula pendapatan komisi dari trade finance diharapkan dapat tumbuh sebesar 10 persen secara tahunan.

Ferdian menambahkan, bagi Bank Jatim, virus corona belum terlalu mempengaruhi potensi pertumbuhan penerbitan L/C, karena impor dari China ke Jawa Timur yang melalui perseroan lebih didominasi oleh komoditas, yakni berupa mesin-mesin dan bahan baku lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper