Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Terpukul pada 2019, Bisnis L/C pada 2020 Diprediksi Masih Lesu

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, kewajiban komitmen irrevocable L/C yang masih berjalan per November 2019 tercatat Rp68,29 triliun, turun 25,74 persen secara tahunan.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 16 Februari 2020  |  12:14 WIB
Terpukul pada 2019, Bisnis L/C pada 2020 Diprediksi Masih Lesu
Menteri Keuangan Sri Mulyani (keempat kiri) berswafoto dengan Dekan FEB UI Ari Kuncoro (ketiga kiri), mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu (keempat kanan), mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom (kedua kanan), seusai menyampaikan kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (28/8). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah menurun pada 2019, bisnis letter of credit tampaknya masih belum pulih pada 2020 akibat permasalahan perdagangan internasional, turunnya kinerja industri dalam negeri, dan sentimen negatif dari virus corona.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, kewajiban komitmen irrevocable L/C yang masih berjalan per November 2019 tercatat Rp68,29 triliun, turun 25,74 persen secara tahunan. Posisi rekening administrasi bank umum ini bahkan nyaris mendekati 2016 yang tercatat sebesar Rp66,35 triliun.

Rektor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, sekaligus Komisaris Utama/Komisaris Independen PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Ari Kuncoro menyebutkan penurunan kinerja L/C disebabkan oleh perang dagang yang membuat ekspor Indonesia turun drastis.

Di luar itu, ada juga dampak dari konsumsi masyarakat dalam negeri yang semakin selektif, sehingga menekan kinerja industri padat impor sekaligus kebutuhan L/C-nya.

"Untuk tahun ini, tantangan tersebut masih terjadi. Ditambah dengan tantangan virus Corona yang membuat arus impor dan L/C berpotensi makin lemah. Semoga bisa membaiklah, kita lihat saja," ucapnya belum lama ini.

Dia menjelaskan, konsumsi masyarakat dalam negeri tergolong dalam fase anomali. Pasalnya, konsumsi barang penting seperti fast moving consumtion goods (FMCG) turun di tengah pendapatan masih tumbuh positif.

Menurut Ari, hal tersebut disebabkan oleh belanja leisure yang cukup baik. Masyarakat lebih memilih untuk belanja wisata kuliner dan jalan-jalan ketimbang kebutuhan pokok.

"Dampaknya cukup besar. Konsumsi masyarakat turun membuat pertumbuhan industri kita yang juga padat impor turun menjadi 3,6 persen tahun lalu, biasanya tumbuh hampir 5 persen. L/C jadi semakin dikurangi," katanya.

Untuk pengiriman barang domestik, menurutnya masih cukup baik. Pelaku usaha ekspedisi masih memiliki prospek bisnis yang baik, terutama dalam pengiriman barang melalui jalur darat.

"Namun sayangnya, bisnis tipe ini tidak terlalu banyak menggunakan L/C, sehingga tidak terlalu dapat diharapkan sebagai motor pendongkrak," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit
Editor : Hafiyyan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top