Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor-Sektor Ini Catatkan Rasio Kredit Bermasalah Tinggi

OJK mencatat rasio kredit bermasalah secara industri Mei 2020 tercatat sebesar 3,01 persen, naik dari 2,89 persen pada April 2020.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 30 Juni 2020  |  12:03 WIB
Ilustrasi NPL - Istimewa
Ilustrasi NPL - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Risiko kredit industri perbankan meningkat sebagai dampak perlambatan ekonomi di tengah pandemi, dari posisi 2,89 persen pada April 2020 menjadi 3,01 persen pada Mei 2020.

Lantas di sektor mana kredit bermasalah paling tinggi?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Mei 2020 rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pertambangan meningkat signifikan ke level 5,03 persen.

Posisi kedua dan ketiga, NPL terbesar pada Mei 2020 berada pada sektor pengolahan dan perdagangan dengan masing-masing sebesar 4,39 persen dan 4,32 persen. Rasio NPL sektor perdagangan besar dan pengolahan yang memiliki kontribusi sebesar 34 persen dari total kredit.

Rasio kredit bermasalah secara industri Mei 2020 tercatat sebesar 3,01 persen, naik dari April 2020 yang berada di angka 2,89 persen. Meskipun terjadi peningkatan rasio NPL, risiko kredit masih di bawah threshold.

Sementara itu, berdasarkan bank umum kelompok usaha (BUKU), NPL tertingi masih pada BUKU 2 yakni sebesar 4,04 persen per Mei 2020. Sisanya, yakni BUKU 1 sebesar 3,9 persen, BUKU 3 sebesar 3,01 persen, dan BUKU 4 sebesar 2,76 persen.

Risiko kredit masih berpotensi meningkat, ditandai oleh pertumbuhan kredit kolektabilitas 2 yang cukup tinggi dan porsi kredit restrukturisasi kolektabilitas 1 yang meningkat signifikan dari bulan sebelumnya.

Saat ini pertumbuhan restrukturisasi kredit terpantau naik signifikan dengan mayoritas merupakan restrukturisasi kolektabilitas 1.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan ada beberapa bank sudah mulai mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah sehingga melemahkan kualitas kredit secara industri.

"Dulu mungkin cuma prediksi, tetapi saat ini sudah terjadi. Ada beberapa bank yang pada Mei, NPL-nya mulai meningkat. Beberapa sektor mulai kena imbas dari pandemi virus corona," katanya dalam rapat bersama Komisi XI, Senin (29/6/2020).

Wimboh berharap pemerintah mulai dapat melonggarkan kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Jika tidak terjadi pelonggaran, bank tidak dapat melakukan penyaluran kredit sehingga justru semakin membahayakan kualitas kreditnya lebih lanjut.

"Ini hanya bisa dilakukan kalau ada kesempatan masyarakat untuk bisa memiliki keleluasaan kembali dalam melakukan aktifvitas sosial dan traveling. Meskipun harus dalam protokol. Harapannya dapat men-generate pendapatan masyarakat yang menjadi debitur bank," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan OJK kredit bermasalah npl
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top