Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dipengaruhi Pandemi, Dana Simpanan Valas Diproyeksi Masih Tumbuh Melambat

Merujuk data Bank Indonesia, DPK valas pada Juni 2020 tercatat sebesar Rp828,6 triliun atau tumbuh 8,7% yoy, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 16% yoy.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  16:55 WIB
Karyawan menghitung uang dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (22/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menghitung uang dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (22/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dalam denomonasi valuta asing (valas) yang melambat pada Juni 2020 diperkirakan masih akan berlanjut sampai akhir tahun seiring dengan tantangan ekspor akibat pandemi.

Merujuk data Bank Indonesia, DPK valas pada Juni 2020 tercatat sebesar Rp828,6 triliun atau tumbuh 8,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 16% (yoy). Perlambatan DPK valas pada Juni 2020 disebabkan oleh komponen giro dan tabungan. Bila dibandingkan dengan kondisi Mei 2020 yang berjumlah Rp843,1 triliun, realisasi penghimpunan DPK valas pada Juni 2020 juga turun 1,72%.

Sebaliknya, pertumbuhan DPK rupiah justru melaju pada Juni 2020. DPK rupiah pada Juni 2020 tercatat sebesar Rp5.188 triliun atau tumbuh 7,4% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya 7% (yoy). Jika dibandingkan pada Mei 2020 sebesar Rp5.088,7 triliun, maka DPK rupiah pada Juni 2020 tumbuh 1,95%.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan DPK valas cenderung menurun seiring dengan terus menurunnya angka ekspor di tengah wabah. Penerimaan valas hasil ekspor merupakan sumber utama pertumbuhan DPK valas. Dari situ, menurunnya ekspor berdampak pada perlambatan pertumbuhan DPK valas.

Di sisi lain, pertumbuhan DPK Rupiah terus meningkat akibat tertahannya konsumsi masyarakat di tengah wabah. Pembatasan aktivitas sosial ekonomi di tengah wabah menyebabkan masyarakat menahan konsumsi, khususnya konsumsi barang-barang sekunder dan tersier. Dengan konsumsi yang menurun drastis, maka uang yang disimpan di bank mengalami peningkatan signifikan.

"Saya perkirakan tren ini masih akan berlanjut hingga akhir tahun," katanya, Selasa (4/8/2020).

Dihubungi terpisah, Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan DPK valas perseroan memang mengalami penurunan. DPK valas pada Juni 2020 turun 7% secara (yoy).

Namun, emiten berkode saham BNGA tersebut saat ini tidak fokus pada DPK valas. Apalagi porsi DPK valas terhadap total DPK perseroan masih kecil yaitu kurang dari 10%.

"Kami tidak fokus di DPK valas sehubungan dengan tidak banyak pipeline pinjaman valas untuk management balance sheet yang lebih prudent," katanya, Selasa (4/8/2020).

Secara total DPK, kata Lani, likuiditas perseroan sangat baik. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2020, penghimpunan dana perseroan bertumbuh 0,46% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.

Jenis giro dan tabungan masing-masing tumbuh 8,45% dan 15,82% secara (yoy), sedangkan simpanan berjangkan turun 15,16% (yoy). Lani menambahkan CIMB Niaga fokus meningkatkan dana murah. "Kami fokus terus di CASA dengan CASA ratio di atas 61%. Saat ini CASA tumbuh sekitar 18%, cukup baik," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as valas cimb niaga
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top