Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sequis Life Ingatkan Pentingnya Asuransi untuk Penyakit Kanker

Biasanya penderita kanker sering tidak menyadari mereka terkena penyakit ini dan mengetahui karena ada gejala spesifik saat kanker sudah memasuki tahap kritis atau ganas
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 22 September 2020  |  21:56 WIB
Kantor Asuransi Sequis Life - sequis.co.id
Kantor Asuransi Sequis Life - sequis.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Jika pasien mendapatkan pelayanan yang nyaman dan tidak lagi khawatir memikirkan biaya pengobatan, maka pasien memiliki harapan untuk mendapatkan pengobatan yang maksimal.

PT Asuransi Jiwa Sequis Life berupaya terus mendukung pengobatan penyakit kritis lewat inovasi pada produk asuransi kesehatan Sequis Q Infinite MedCare Rider (SQIMC) dengan menambahkan fasilitas X Booster.

Harapannya, pasien bisa mendapatkan pengobatan yang komprehensif, terutama terkait pengobatan kanker, yaitu tersedia manfaat penggantian biaya kesehatan sesuai tagihan (as charged) untuk rawat jalan kanker dan cuci darah.

Serta perawatan kanker nonmedis (alternatif) atau dikenal dengan perawatan kanker eksperimental  hingga Rp1,8 miliar per tahun, termasuk untuk konsultasi, pemeriksaan tes, dan obat dalam jangka waktu 30 hari kalender sebelum, dan/atau 90 hari kalender sesudah mendapatkan terapi hormon, terapi imun atau terapi target. 

Ini merupakan upaya Sequis Life mewujudkan saran-saran para ahli. Di mana biasanya penderita kanker sering tidak menyadari mereka terkena penyakit ini. Biasanya jadi tahu karena ada gejala spesifik saat kanker sudah memasuki tahap kritis atau ganas. 

Peringatan ini telah menginsipirasi perusahaan asuransi untuk menyediakan produk asuransi yang dapat membantu masyarakat melakukan pengobatan karena jika memiliki asuransi kesehatan, pastinya akan berguna untuk mengantisipasi biaya pengobatan.

Dokter Spesialis Bedah Digestive dr. Sylvia F.Laura, SpB-KBD Ciputra Hospital Tangerang mengatakan dengan memiliki pengetahuan mengenai penyakit kanker yang tepat, pasien akan memiliki kesadaran yang tinggi dan berinisiatif untuk melakukan deteksi dini kanker, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terkena kanker.

"Sayangnya, kebiasaan hidup sehat dan upaya meningkatkan kesehatan belum menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita. Lebih banyak orang peduli pada bagaimana mengobati penyakit daripada mencegahnya. Di sisi lain, banyak juga masyarakat yang enggan memeriksakan diri ke dokter dan  lebih memilih berobat ke alternatif," ujar Sylvia dalam keterangannya, Selasa (22/9/2020).

Menurutnya, menambah pengetahuan mengenai penyakit kanker juga bermanfaat agar pasien dan keluarga dapat siap fisik dan mental, memiliki semangat, dan pikiran yang positif bahwa kanker dapat dilawan.

Ilustrasi kanker usus besar./UGM

Cara jitu melawan kanker, yaitu menjalankan pengobatan sesuai prosedur medis dan mengonsumsi nutrisi seimbang sesuai petunjuk nutrisionist. 

Mereka yang berisiko terkena kanker, contohnya pada kanker usus besar, umumnya berusia di atas 50 tahun, laki laki lebih sering dari pada wanita, memiliki riwayat keluarga menderita kanker, gaya hidupnya tidak sehat, berat badan berlebih, jarang mengonsumsi makanan berserat, dan sering terpapar zat kimia tertentu.

Gejala yang timbul, seperti defekasi yang tidak normal, disertai darah, dan lendir, serta nyeri saat BAB. Diperlukan skrining agar kanker dapat ditemukan lebih dini.

Skrining dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan atau deteksi dini. Dalam kasus kanker usus besar, colonoskopi merupakan gold standard sebagai diagnostik maupun terapi.

Melalui colonoskopi, jaringan kanker dapat diambil (biopsi) agar jenis histopatologi pada kanker dan stadiumnya dapat diketahui sehingga kanker dapat ditangani dengan tepat.

"Semakin dini kanker dapat dideteksi, semakin baik prognosis pasien [prediksi perkembangan penyakit dari tanda dan gejala apakah membaik atau memburuk] dan survival rate [kelangsungan hidup] pasien," tambahnya.

Agency Development Manager Henry Kurniawan K S, RFP®, LCPC mengungkap peningkatan pengetahuan tentang kanker juga perlu dibarengi dengan pengetahuan perencanaan keuangan.

Perlu diketahui, pendapatan yang kita miliki tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saaat ini, melipatgandakan kekayaan, dan mempercepat pertumbuhan kekayaan semata, tetapi keuangan yang dapat meminimalisir risiko ekonomi jika terjadi hal yang tak terduga, seperti penyakit kritis.

Henry menyarankan untuk menyiapkan anggaran biaya asuransi dengan rumus 10 persen untuk kebaikan, 30 persen untuk cicilan produktif, 40 persen untuk kebutuhan sehari-hari dan gaya hidup, dan 20 persen untuk masa depan. Termasuk dalam dana masa depan, seperti dana darurat, pendidikan anak, dana pensiun, dan asuransi jiwa dan kesehatan. 

Asuransi kesehatan baiknya yang memiliki manfaat atau limit yang cukup untuk membiayai pengobatan di rumah sakit dengan mempertimbangkan tingkat inflasi di masa depan.

"Memiliki asuransi dengan limit manfaat Rp30 miliar saat ini mungkin terdengar fantastis. Namun, biaya rumah sakit akan terus naik karena faktor inflasi. Pada 20 atau 30 tahun mendatang, angka ini tentunya tidak lagi fantastis," ujar Henry.

Apalagi, produk asuransi ada yang dibatasi dengan batas manfaat tahunan yang mungkin hanya cukup untuk kebutuhan biaya rumah sakit saat itu sehingga besaran manfaat asuransi di jangka panjang idealnya menjadi pertimbangan ketika memilih asuransi kesehatan.

Pertimbangan lain adalah soal harga kamar karena ketika sakit tentunya pasien perlu mendapatkan kenyamanan, tetapi terkendala pada harga kamar rumah sakit yang mahal.

"Asuransi kesehatan yang ideal tidak dibatasi dengan harga kamar, yaitu memiliki fasilitas 1 tempat tidur di kelas VIP/VVIP. Artinya, jika tahun-tahun mendatang harga kamar dengan 1 tempat tidur atau kelas VIP/VVIP mengalami kenaikan harga, pasien tetap dapat menggunakan fasilitas asuransinya dengan maksimal," tambahnya.

Asuransi kesehatan penting terutama di saat tak terduga. Untuk itu, nasabah perlu berkomitmen membayar premi agar perlindungan dapat terus terlindungi. 

Tetapi mengingat premi bertambah seiring dengan bertambahnya usia, maka nasabah perlu menyiasati keuangannya agar tetap dapat membayar premi untuk tetap mendapatkan perlindungan asuransi.

“Bagi yang memiliki penghasilan tetap, biasanya ada kenaikan gaji setiap tahun. Penambahan gaji ini dapat dialokasikan pada dana masa depan. Misalnya, kenaikan gaji 7 persen alokasikan dana tersebut untuk premi Anda bisa mengikuti sebesar 7 persen untuk persiapan jika  premi asuransi naik seiring bertambahnya usia," tutup Henry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi jiwa kanker sequis life
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top