Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OJK Minta Pemegang Saham Perkuat Modal Bank Sulteng, Dukung Pengembangan Bisnis

Saat ini, pemegang saham Bank Sulteng terdiri dari Pemprov Sulteng, 11 pemerintah kabupaten dan kota di Sulteng, serta PT Mega Corpora, yang dimiliki oleh pengusaha nasional Chairul Tanjung.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 04 Desember 2020  |  15:26 WIB
OJK Minta Pemegang Saham Perkuat Modal Bank Sulteng, Dukung Pengembangan Bisnis
Pengunjung gerai Slik menunggu panggilan petugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (5/2/2020). Bisnis - Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta para kepala daerah selaku pemegang saham Bank Sulawesi Tengah (Bank Sulteng) untuk memperkuat permodalan.

Dengan modal yang kuat, maka pengembangan Bank Sulteng akan optimal, misalnya saja dari sisi teknologi.

"Melalui upaya penambahan modal, aktivitas layanan berbasis teknologi terus dapat dikembangkan sehingga diharapkan dapat sejajar dengan bank umum konvensional lainnya," kata Kepala OJK Perwakilan Sulteng Gamal Abdul Kahar, seperti dilansir Antara, Jumat (4/12/2020).

Saat ini, pemegang saham Bank Sulteng terdiri dari Pemprov Sulteng, 11 pemerintah kabupaten dan kota di Sulteng, serta PT Mega Corpora, yang dimiliki oleh pengusaha nasional Chairul Tanjung.

Menurut dia, sektor perbankan memang memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perekonomian daerah, khususnya di Sulteng.

Bank Sulteng pun menjadi perpanjangan tangan Pemda dalam membantu penyaluran pembiayaan bagi masyarakat yang sejalan dengan visi BPD untuk menjadi bank terpercaya, sehat, maju dan berkembang berdaya saing, berteknologi tepat guna serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.

"Kami menyadari masih banyak tantangan yang dihadapi BPD dalam perkembangannya di daerah mulai dari masalah permodalan, daya saing, kualitas pelayanan, sumber daya manusia (SDM) hingga inovasi dan perkembangan produk yang keseluruhannya masih perlu ditingkatkan," ujar Gamal.

Meski begitu, paparnya, kesuksesan penerapan strategi tersebut akan bergantung pada kesadaran dan komitmen yang kuat dari pemegang saham dan pengelola BPD untuk mentransformasikan diri menjadi 'champion' daerah sesungguhnya.

Kinerja intermediasi sektor OJK, masih sejalan dengan perekonomian nasional. Berdasarkan catatan Oktober 2020, total aset perbankan secara nasional tercatat sebesar Rp9,075 triliun dengan pertumbuhan 8,74 persen, lalu penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp6,620 triliun dan ini masih tumbuh di level tinggi sebesar 12,12 persen.

"Berbicara dukungan OJK terhadap pembangunan di Sulteng, pada Oktober lalu tetap menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya," ucap Gamal.

Sejalan dengan itu, katanya, peran perbankan di provinsi ini tetap berada di jalur yang positif dalam sektor riil di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik dan global dengan total LDR mencapai 118,26 persen.

Direktur Utama Bank Sulteng Rahmat Abdul Haris dalam kesempatan berbeda sebelumnya mengatakan modal inti perseroan sudah menunjukkan posisi yang baik, yaitu senilai Rp1,28 triliun atau masuk ke kategori BUKU II.

Dengan predikat naik kelas buku dua, maka Bank Sulteng telah siap menyelenggarakan kegiatan-kegiatan berbasis digitalisasi di seluruh unit pelayanan yang mengandalkan sistem jaringan internet.

"Kami berkomitmen menjaga modal inti agar terus berkembang. Bank Sulteng juga sudah bisa transfer melalui telepon seluler," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK bpd permodalan bank sulteng modal inti

Sumber : Antara

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top