Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kredit Konstruksi Diramal Lebih Kokoh di Tahun Kerbau Logam 2021

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baki kredit sektor kontruksi per November tahun lalu tercatat Rp373,62 triliun, masih naik 3,29 persen secara tahunan.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 03 Februari 2021  |  18:10 WIB
Ilustrasi kegiatan konstruksi Jakarta./Bloomberg - Dimas Ardian
Ilustrasi kegiatan konstruksi Jakarta./Bloomberg - Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA -- Penyaluran kredit ke sektor konstruksi diperkirakan akan lebih agresif tahun ini seiring dengan pemulihan kinerja ekonomi. Sektor infrastruktur sekaligus konstruksi perumahan akan cukup potensial bagi perbankan dalam mengakselerasi kreditnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baki kredit sektor kontruksi per November tahun lalu tercatat Rp373,62 triliun, masih naik 3,29 persen secara tahunan.

Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pun turun 17 basis poin secara tahunan menjadi 3,61 persen. Ekspansi kredit moderat sekaligus baki kredit bermasalah yang menurun menjadi penguat kualitas kredit sektor ini.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Samual mengatakan penyaluran kredit sektor ini akan lebih agresif pada tahun lalu. Sektor ini termasuk dalam segmen investasi yang penyalurannya akan lebih agresif demi menjawab kebutuhan konsumsi masyarakat.

"Tahun lalu masih positif dibandingkan kredit secara umum yang terkontraksi. Kami perkirakan tahun ini pun akan berlanjut positif dan akan lebih agresif. Bahkan ada potensi tren peningkatan signifikan. Permintaan kredit ini juga cukup luas baik mulai dari infrastruktur sampai konstruksi gedung perumahan," katanya, Rabu (3/2/2021).

Dia menyampaikan pemerintah memiliki belanja infrastruktur pemerintah untuk tahun ini mencapai lebih Rp417,4 triliun, yang alokasi ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Pemerintah juga mengoperasikan sovereign wealth fund (SWF) yang tujuannya juga untuk mempercepat pembangunan infrastruktur nasional.

Di samping itu, dia menuturkan kebijakan loan to value (LTV) untuk properti dari BI juga akan membuat pelaku usaha di sektor konstruksi perumahan mulai meningkatkan kembali pembangunannya.

"Terlebih, ada atau tidak adanya pandemi, Indonesia masih mengalami kekurangan rumah sehingga masih butuh pembangunan. Permintaan rumah masyarakat menengah bawah juga kuat," sebutnya.

David menuturkan kemampuan modal dan likuiditas perbankan dalam ekspansi kredit pun sangat kuat. Persepsi risiko perbankan akan perlahan membaik seiring dengan vaksinasi yang semakin agresif.

"Kondisinya sudah sangat membaik. Relaksasi fiskal, moneter, dan dari sektor jasa keuangannya juga ada. Harusnya bisa lebih baik," katanya.

Plt Direktur Utama Bank BTN Nixon L.P. Napitupulu menyampaikan perseroan akan lebih mendahulukan konsolidasi dan kualitas kredit dalam pada sektor konstruksi perumahannya.

Menurutnya, perseroan masih perlu merapikan kualitas kredit dan tata kelola sebelum melakukan ekspansi lebih gencar pada sektor luar kredit pemilikan rumah.

Adapun, adapun kredit sektor konstruksi masuk dalam segmen kredit komersil dan korporasi BTN. Baki kreditnya masing-masing turun 9,6 persen secara tahunan menjadi Rp26,9 dan turun 0,8 persen secara tahunan menjadi Rp17,2 triliun per akhir 2020.

Namun, Nixon menyampaikan perseroan sedang mencoba untuk mendorong pembangunan perumahan bagi kaum milenial di daerah perkotaan. Sejak tahun lalu, dia menyampaikan perseroan aktif menjalin komunikasi untuk pendanaan kompetitif dari JBIC, AIIB dan ADB.

Di samping itu, dia menuturkan pengembang dalam negeri juga mulai akan lebih agresif dalam menggarap permintaan rumah landed karena permintaannya masih sangat baik pda tahun lalu. Sayangnya, konstruksi high rise masih belum akan baik lantaran membutuhkan perbaikan persepsi dari masyarakat kelas menengah atas.

"Kami optimistis kinerja kredit akan lebih baik pada tahun ini. Apalagi perumahan termasuk dalam sektor strategis pemulihan ekonomi nasional karena padat modal dan penuh produk lokal," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit penyaluran kredit kredit konstruksi
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top