Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tak Bosan, Gubernur BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit

Selaku salah satu anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Perry mencatat perbankan yang sudah menurunkan suku bunga dasar kredit adalah bank dari himpunan bank negara (Himbara), dan swasta seperti Bank Central Asia (BCA).
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  14:11 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meminta agar perbankan di seluruh Indonesia untuk segara menurunkan suku bunga kredit .

Selaku salah satu anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), BI mencatat perbankan yang sudah menurunkan suku bunga dasar kredit adalah bank dari himpunan bank negara (Himbara), dan swasta seperti Bank Central Asia (BCA).

“Makanya kami berempat KSSK, Bu Menteri, Pak Wimboh (OJK), Pak Purbaya (LPS), mohon juga nih perbankan [untuk] menurunkan kredit. Makanya kita mulai transparansi suku bunga kredit. Terima kasih bank-bank Himbara sudah mulai, yang lain ayo,” kata Perry dalam Temu Stakeholder Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis (25/3/2021).

Menurutnya, bank sentral juga sudah melakukan sejumlah upaya mendorong percepatan pemulihan ekonomi naisonal (PEN). Perry menyebut BI sudah menurunkan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) ke level 3,5 persen. Angka tersebut merupakan terendah sepanjang sejarah.

Selain itu, Perry juga mengatakan telah menyuntikkan likuditas ke perbankan terutama himpunan bank negara (Himbara) sebesar Rp781,2 triliun dan burden sharing yang telah disetujui pula oleh Komisi XI DPR RI. “Monggo, melimpah likuiditas quantitative easing. Salah satu yang terbesar di emerging market sebesar Rp781,2 triliun,” jelasnya.

Meski begitu, Perry menjelaskan perekonomian di seluruh sektor tidak dapat pulih dalam waktu dan fase yang sama. Dalam paparannya, dia mencatat ada 38 subsektor prioritas dalam yang berkontribusi besar pada produk domestik bruto (PDB) dan eskpor.

Pertama, 6 sektor berdaya tahan meliputi holtikultura, tanaman perkebunan, pertambangan biji logam, industri makanan dan minuman, indsutri kimia farmasi, serta kehutanan dan penebangan kayu.

Kedua, ada 15 sektor perekonomian yang dikategorikan sebagai pendorong pertumbuhan, a.l. peternakan, perikanan, industri TPT, industri kulit dan alas kaki, industri barang dari logam dan eletronik, industri mesin dan perlengkapan, industri kayu dan furnitur, serta industri logam dasar.

Selain itu, informasi dan telekomunikasi, real estat, jasa pertanian, tanaman pangan, pengadaan air, pengolahan tembakau, serta industri barang galian bukan logam.

Terakhir, Perry mencatat ada 17 sektor penopang pemulihan. Contohnya pertambangan batu bara dan lignit, konstruksi, industri alat angkutan, hotel dan restoran, jasa kesehatan, perdagangan besar dan eceran, logistik, administrasi pemerintahan, dan jasa pendidikan.

Lalu, industri karet dan plastik, angkutan darat, angkutan rel, transportasi udara, asuransi dan dana pensiun, jasa penunjang keuangan, jasa perantara keuangan, serta jasa keuangan lainnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia kredit
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top