Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Modal Ventura Punya Potensi Besar Kembangkan Sektor Pertanian, Ini Alasannya

Modal ventura bisa dengan mudah masuk berinvestasi ke sektor pertanian karena sifat pendanaannya yang fleksibel, salah satunya lewat venture-fund.
Ilustrasi/investama.co.id
Ilustrasi/investama.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor pertanian, terutama sisi hulu (up-stream agribusiness), menjadi salah satu segmen yang cocok dikembangkan lewat investasi dari industri modal ventura.

Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) sekaligus Managing Partner Gayo Capital Jefri R. Sirait mengungkap salah satu alasannya karena kebutuhan permodalan di sektor ini terbilang sulit dipenuhi atau diterima oleh lembaga jasa keuangan lain yang melakukan pendanaan secara langsung.

Pertama, investasi ke proyek-proyek di sektor ini tentu memiliki risiko yang terbilang tinggi. Selain itu, kegiatan berkaitan sektor ini biasanya membutuhkan komitmen jangka panjang, serta kerap belum memiliki model bisnis yang mapan, sehingga membutuhkan pendampingan.

"Apalagi, kalau [proyek] berangkatnya dari hasil research. Kita ini kan punya banyak paten di sektor agri, tapi akademisi itu tidak semua bisa jualan, karena memang bukan tugas mereka. Maka, begitu muncul startup atau proyek-proyek di up-stream agribusiness, skema dari modal ventura lebih bisa jalan," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (19/9/2021).

Hal ini juga demi menanggapi maraknya fenomena kredit macet dan bahkan gagal bayar di fintech peer-to-peer (P2P) lending yang menawarkan proyek pertanian.

Menurutnya, proyek pertanian, terlebih di sisi hulu, akan sulit berjalan lewat gelontoran investasi pendanaan bersama dari masyarakat selaku pendana atau lender.

"Terkait fenomena ini, mungkin bisa dari sisi kurasi proyek atau business model proyeknya yang belum tepat. Disbursement ke agri memang terbilang mudah, tetapi risikonya sulit untuk dikelola. Gayo Capital sendiri ada beberapa investasi ke sektor agri dan bukan lewat startup fintech," jelasnya.

Beberapa startup dalam portofolio tersebut, antara lain startup urban farming tunasfarm.id, platform digital enabler petani dan peternak pasarmikro.id, dan proyek Petani Kakao Lampung.

"Contoh lainnya, ada juga sebagai modal ventura [VC] kita ikut hubungkan kopi dari PT Desa Gemah Gemilang buat ekspor perdana mereka ke Kanada. Ini contoh peran VC ke sektor pertanian dan gambaran konkret mengenai impact investment [investasi berdampak sosial]," ungkapnya.

Sebagai gambaran, modal ventura bisa dengan mudah masuk berinvestasi ke sektor pertanian karena sifat pendanaannya yang fleksibel, tidak melakukan penyaluran pinjaman atau debt-funding secara langsung seperti perbankan, multifinance, atau P2P lending.

Modal ventura punya keleluasaan untuk menerapkan skema venture-debt, walaupun penggunaannya sama-sama untuk working capital. Misalnya, memberikan modal tahap awal, namun return yang didapat bukan bunga atau imbal hasil secara langsung, melainkan pembagian saham, yang tak jarang memungkinkan konversi harga di waktu tertentu sesuai perjanjian.

Artinya, skema ini membuat modal ventura tidak mendapatkan return secara instan, namun return jangka panjang dalam bentuk dividen, serta lewat capital gain setelah nantinya melakukan exit strategy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Editor : Azizah Nur Alfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper