Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Adu Jualan BBCA, BMRI, dan BBRI Lego Surat Utang Negara Ritel dari Menkeu Sri Mulyani

Bank-bank berkapitalisasi jumbo seperti BBCA, BMRI hingga BBRI berhasil mendorong investor baru memborong surat urang negara yang diterbitkan Kementerian Keuangan yang kini dipimpin Sri Mulyani. Bagaimana strateginya?
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 21 Juni 2022  |  18:08 WIB
Ilustrasi Saving Bond Ritel (SBR). Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi Saving Bond Ritel (SBR). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Tingginya antusiasme para investor baru dalam pembelian surat utang negara jenis savings bond ritel (SBR) seri SBR011 telah membuat bank-bank berkapitalisasi jumbo, yang menjadi mitra distribusi (midis), mampu mencetak penjualan di atas target.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) mengumumkan bahwa total nilai pembelian SBR011 mencapai Rp13,91 triliun. Perolehan ini lebih tinggi 85,5 persen dibandingkan seri sebelumnya, yakni SBR010 yang meraih Rp7,5 triliun.

Tak cuma melampaui raihan SBR seri sebelumnya, SBR011 juga mengalami oversubscribe hingga 2,78 kali dari target awal yang dipatok sebesar Rp5 triliun. SBR011 ditawarkan oleh pemerintah mulai tanggal 25 Mei 2022 hingga ditutup pada 16 Juni 2022.

Total, terdapat 47.673 investor yang berinvestasi dalam Surat Berharga Negara (SBN) ritel ketiga ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20.948 pembeli merupakan investor baru dengan kontribusi sebesar 43,9 persen dari jumlah total investor.

Tingginya animo masyarakat untuk membeli SBR011 tidak lepas dari strategi bank-bank jumbo, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Para raksasa perbankan ini mampu mencetak penjualan di atas target yang dipatok.

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengungkapkan bahwa penjualan SBR011 di emiten bank berkode saham BBRI itu hampir mencapai Rp1,5 triliun, atau meningkat 41 persen dibandingkan dengan penjualan SBR010. Namun jumlah ini melesat lebih dari 900 persen. 

“Dari target Kementerian Keuangan yang diberikan ke BRI sebesar Rp150 miliar, namun penjualan SBR yang dilakukan oleh BRI berhasil mencapai hampir mendekati Rp1,5 triliun dan pastinya lebih dari target yang ditetapkan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).

Aestika menjelaskan penjualan SBR011 turut mengalami peningkatan yang sangat baik dari sisi investor. Tercatat dari 2.600 jumlah investor yang membeli SBR011 di BRI, sebanyak 68 persen merupakan investor baru.

Di sisi lain, capaian Bank Mandiri juga tidak kalah moncer. Emiten bank dengan ticker BMRI ini mencatatkan penjualan SBR011 mencapai Rp1,83 triliun. Lebih tinggi dibandingkan realisasi penjualan SBR010 yang meraih Rp1,27 triliun.

Sementara itu, bank swasta terbesar di Indonesia, BCA, berhasil melampaui realisasi penjualan Bank Mandiri dan BRI dengan perolehan Rp4,1 triliun. Dari total penjualan tersebut, sebanyak 61 persen transaksi pemesanan dilakukan melalui aplikasi Welma.

SELISIH BUNGA

Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha menilai tingginya realisasi penjualan SBR011 disebabkan spread atau selisih bunga yang diberikan jauh lebih tinggi dari seri sebelumnya, yakni 2 persen. Sementara SBR010 memberikan selisih 1,6 persen.

Sebagai konteks, kupon SBR011 memiliki sifat mengambang dilengkapi dengan batas bawah atau floating with floor. Dengan demikian, kupon akan naik bila suku bunga acuan naik, tetapi tidak akan turun lebih rendah daripada batas minimal.

Secara rinci, tingkat kupon ini berlaku untuk periode 3 bulan pertama, mulai 22 Juni 2021 hingga 10 September 2022. Besaran kupon berasal dari suku bunga acuan yang berlaku pada saat penetapan kupon yaitu 3,5 persen ditambah spread tetap 200 bps (2,00 persen).

Tingkat Kupon berikutnya akan disesuaikan setiap 3 bulan pada tanggal penyesuaian kupon sampai dengan jatuh tempo. Selain itu, penyesuaian tingkat kupon didasarkan pada suku bunga acuan ditambah spread tetap 200 bps (2,00 persen).

Rudi mengatakan bahwa seluruh penawaran itu membuat SBR011 sangat diminati oleh nasabah. Ke depannya, dia menilai sentimen kenaikan suku bunga secara umum akan menjadi motor penggerak kenaikan suku bunga dari SBR011.

“Menurut hemat kami, sentimen pergerakan kenaikan suku bunga secara umum saat ini merupakan faktor utama penggerak kenaikan suku bunga SBR011. Sentimen yang dapat menghambat adalah kenaikan bunga deposito,” pungkasnya.

Senada, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan tingginya minat investor ritel terhadap SBR011 salah satunya ditopang oleh likuiditas rupiah yang masih melimpah. Hal ini juga seiring dengan suku bunga deposito perbankan yang tetap rendah, sehingga menyebabkan kupon yang ditawarkan SBR011 jauh lebih menarik.

“Faktor ketidakpastian global yang masih tinggi, mulai dari kenaikan inflasi, hawkish bank sentral, hingga risiko geopolitik perang Rusia- Ukraina yang belum terlihat selesainya kapan juga menyebabkan demand SBR011 juga meningkat,” tuturnya.

Selain itu, struktur SBR011 yang menarik juga menjadi salah satu nilai tambah di mata para investor. SBR011 memberikan tenor yang pendek dan suku bunga floating with floor, sehingga investor akan mendapatkan kupon lebih tinggi jika suku bunga acuan BI naik.

1 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang negara sri mulyani
Editor : Anggara Pernando
To top