Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Restrukturisasi Kredit, OJK Ungkap Sektor Mamin Masih Berisiko

OJK mencermati sektor ekonomi yang kemungkinan membutuhkan restrukturisasi kredit lebih panjang.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 01 Agustus 2022  |  19:21 WIB
Restrukturisasi Kredit, OJK Ungkap Sektor Mamin Masih Berisiko
Kiri ke kanan: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers triwulanan KSSK di Jakarta, Senin (1/8 - 2022). Dok: Youtube Kemenkeu
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan masih terdapat sektor ekonomi yang membutuhkan perpanjangan restrukturisasi kredit akibat dampak Covid-19 setelah program ini direncanakan berakhir pada Maret 2023 mendatang. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyebutkan beberapa sektor yang masih butuh konsentrasi lebih tinggi ini seperti akomodasi serta sektor makanan minuman (mamin). Kedua sektor ini tercatat masih memiliki proporsi kredit restrukturisasi tinggi. 

Ini yang kami terus dalami kajian dan risikonya, sehingga betul-betul yang dibutuhkan dalam konteks ini adalah fokus kepada targeted sector. Jadi, berbeda saat di awal ataupun di puncak dari krisis pandemi, di mana restrukturisasi kredit yang dilakukan berlaku untuk seluruh sektor,” kata Mahendra dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (1/8/2022).

Di sisi lain, Mahendra mengungkapkan ada sejumlah sektor dan industri lain yang sudah jauh lebih baik daripada saat awal proses restrukturisasi kredit ini dilakukan. Adapun penurunan restrukturisasi terjadi pada sektor perdagangan, manufaktur, konstruksi. Kemudian diikuti dengan sektor transportasi, komunikasi, dan pertanian, maupun sektor lainnya.

“Pada saatnya dari waktu ke waktu kami akan terus meng-update perkembangan hal ini. Namun yang perlu kami sampaikan bahwa pendekatannya akan lebih masuk kepada sektor dan industri yang memang masih memerlukan hal-hal tadi,” ujarnya.

Kendati demikian, Mahendra mengatakan kredit restrukturisasi pandemi dan dari segi jumlah nilai maupun jumlah debitur terus mengalami penurunan dalam jumlah yang signifikan. Sama halnya dengan rasio kredit macet atau non perfoming loan (NPL) dari kredit yang direstrukturisasi, sedangkan rasio CKPN atau cadangan kerugian penurunan nilai yang diperuntukkan bagi restrukturisasi kredit terus meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

restrukturisasi utang OJK mahendra siregar
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top