Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CIMB Niaga (BNGA) Proyeksikan Kredti Kendaraan Listrik Masih Sepi Peminat

Saat ini mobil listrik paling murah adalah Wuling dengan banderol Rp238 juta.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 21 September 2022  |  14:45 WIB
CIMB Niaga (BNGA) Proyeksikan Kredti Kendaraan Listrik Masih Sepi Peminat
Nasabah bertransaksi menggunakan Super AppOCTO milik PT Bank CIMB Niaga Tbk.(BNGA)di Jakarta, Rabu (19/1/2022). - Bisnis/Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) memproyeksikan pertumbuhan kredit kepemilikan kendaraan listrik di Indonesia sangat kecil. Hal ini mengingat harga jual kendaraan yang tersedia di pasar masih terbilang mahal. 

Mobil listrik paling murah saat ini adalah Wuling Air EV yang dibanderol mulai dari harga Rp238 juta sampai dengan Rp311 juta, yang memiliki kapasitas empat orang. Mobil ini bisa dibilang mahal, karena dengan harga yang sama, konsumen otomotif bisa mendapatkan mobil tiga baris penumpang. 

Direktur Treasury & Capital Market CIMB Niaga John Simon menilai mahalnya harga kendaraan listrik akan membuat pembiayaan kendaraan listrik juga tidak akan tinggi. Untuk itu, dia berharap agar pemerintah ikut turun tangan dengan memberikan insentif pembiayaan kendaraan listrik. 

“Menurut saya, kecil [pertumbuhan kendaraan listrik]. Itu enggak sampai single digit, sekitar 4 persen, pasti kecil karena ini [pembiayaan kendaraan listrik] baru mulai,” kata John saat ditemui di Jakarta, Rabu (21/9/2022). 

Dia melanjutkan bahwa dengan adanya insentif yang diberikan pemerintah, maka masyarakat akan lebih dimudahkan. Di samping itu, biaya (cost) kendaraan listrik dari segi produksi juga lebih mahal dibandingkan dengan mobil konvensional. 

“Untuk negara dengan pajak kendaraan bermotor tinggi, seperti Indonesia, kalau pemerintah berani memangkas pajak kendaraan untuk hybrid, itu bisa lebih murah,” sambungnya. 

Adapun jika dilihat dari skala industri, John menilai pembiayaan kendaraan listrik juga tetap kecil karena keberadaan kendaraan ini baru masuk ke pasar. 

“Ini perlu bantuan dari pemerintah supaya saat kita membeli kendaraan listrik itu lebih mudah,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Indonesia juga berkomitmen untuk memerangi perubahan iklim melalui Paris Agreement tentang perubahan iklim dengan telah menetapkan target nasional pengurangan emisi atau Nationally Determined Contribution (NDC) pada 2030, transisi menuju ekonomi rendah karbon, dan tujuan nol emisi (net zero) pada tahun 2060. 

Terpisah, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai tren kepemilikan kendaraan listrik memiliki prospek yang bagus, meski pertumbuhannya masih moderat hingga akhir 2022. 

Menurutnya, hal itu terjadi bukan karena hambatan atau kendala perbankan saat menyalurkan kredit, melainkan karena beberapa faktor. Pertama, mobil listrik belum banyak pilihan. Kedua, harga mobil listrik yang masih mahal. Ketiga, Amin menilai masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa kendaraan listrik menjadi pilihan atau alternatif yang baik untuk kendaraan di Indonesia ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cimb niaga Mobil Listrik Kendaraan Listrik
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top