Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kredit Valas Terpapar Pelemahan Rupiah, Segini Portofolio Bank dalam Denominasi Dolar AS

Pelemahan rupiah menyengat bank-bank yang punya kepentingan atau portofolio bisnis luar negeri yang banyak.
Ilustrasi modal asing dalam bentuk mata uang dolar AS. Dok Freepik
Ilustrasi modal asing dalam bentuk mata uang dolar AS. Dok Freepik

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini dinilai memengaruhi risiko kredit valuta asing (valas) di perbankan. Lantas, berapa besar nilai portofolio kredit valas itu, terutama di bank jumbo seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI)?

Nilai tukar rupiah sendiri saat ini sedang dalam tren melemah. Mengutip data Bloomberg, pada hari ini, Rabu (17/4/2024) pukul 09.01 WIB, rupiah dibuka merosot 0,47% ke Rp16.251,5 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,02% ke 106,28.

Rupiah memang telah mencatatkan tren pelemahan sejak awal tahun ini. Tercatat, pada perdagangan awal tahun, per 2 Januari 2024 rupiah masih di level Rp15.390.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah memang akan membawa dampak terhadap bisnis perbankan, di antaranya portofolio valas. Menghadapi kondisi tersebut, BNI terus melakukan stress test.

"Tentunya kami juga akan lebih selektif dalam ekspansi kredit valas," katanya kepada Bisnis, Rabu (17/4/2024).

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi juga sempat mengatakan bahwa lesunya rupiah berpotensi meningkatkan risiko kredit pada debitur dengan pinjaman valas.

Ia pun menyebut untuk bisa mengantisipasi risiko ini, perbankan mesti memonitor secara disiplin debitur valuta asing yang pendapatannya dalam rupiah untuk memastikan kemampuan membayar atau repayment capacity dari debitur.

“Karena secara ekuivalen rupiah, maka nilai kewajiban debitur menjadi semakin besar, tapi kami sudah memperhitungkan, di mana sebagai langkah antisipatif, kami punya early warning system untuk mendeteksi potensi penurunan kinerja debitur,” ujarnya.

Sementara, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin juga mengatakan lesunya rupiah mampu menyengat bank-bank yang punya kepentingan atau portofolio bisnis luar negeri yang banyak. 

"Bank-bank yang terkait aktivitas treasury, trade financing, aktivitas international banking, portofolionya di valas besar, ini rawan terdampak," tuturnya.

Menurutnya, rata-rata bank yang mempunyai portofolio bisnis luar negeri besar adalah bank-bank jumbo. 

Adapun, mengacu Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini, bank-bank jumbo seperti Bank Mandiri dan BNI memiliki portofolio kredit valas sebanyak Rp545,03 triliun pada Januari 2024, tumbuh 16,93% secara tahunan (year on year/yoy).

Portofolio kredit valas di bank jumbo itu memiliki porsi 53,47% dari keseluruhan nilai portofolio kredit valas di industri perbankan sebesar Rp1.019 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper