Bisnis.com, JAKARTA - Bank asal Australia ANZ Group Holdings Ltd. menyatakan tunjangan karyawan akan dipangkas jika kehadiran di kantor kurang dari aturan yang ditetapkan, yaitu setidaknya setengah dari hari kerja dalam seminggu.
Aturan itu diterapkan sejalan dengan perombakan yang dilakukan oleh CEO ANZ Nuno Matos. Dilansir Bloomberg pada Jumat (29/8/2025), dalam sebuah email yang dikirimkan kepada para manajer kemarin merinci adanya pencatatan kehadiran staf dan pengurangan rentang gaji bagi karyawan yang tidak memenuhi ambang batas absen 50%.
Seorang juru bicara bank asal Australia tersebut telah mengonfirmasi kebenaran email yang beredar. Komunikasi mengenai kebijakan tempat kerja muncul di saat Matos fokus pada strategi pemulihan di bank yang berbasis di Melbourne tersebut.
Awal pekan ini, para manajer ANZ bermaksud untuk menjelaskan PHK kepada staf, tetapi email otomatis justru terkirim secara tidak sengaja sebelum rencana tersebut dilaksanakan.
ANZ telah dikritik karena kesalahan dalam manajemen risiko dan budaya, area yang telah dijanjikan Matos untuk diperbaiki. Matos telah berupaya meningkatkan produktivitas staf sejak dia menjabat pada bulan Mei dan perusahaan telah meninjau kembali pengaturan kerja secara hybrid.
Masalah bonus dan pemotongan gaji staf didasarkan pada empat tingkatan, sebagaimana ditegaskan dalam memo tersebut. Mereka yang hadir di kantor kurang dari 20% dari waktu kerja tidak akan memenuhi syarat untuk kenaikan gaji, kecuali mereka memiliki izin khusus. Kemudian hadir di kantor dengan rentang 21% dan 40% dari waktu kerja dapat mengakibatkan pemangkasan gaji variabel hingga 50%.
Baca Juga
“Sebagian besar orang memenuhi ekspektasi kami untuk menghabiskan setidaknya 50% dari waktu kerja terjadwal mereka di tempat kerja ANZ, dengan fleksibilitas untuk bekerja jarak jauh selama sisanya,” demikian bunyi memo tersebut.
Tak hanya itu, disampaikan pula dalam memo tersebut, seorang pemimpin memainkan peran penting, tidak hanya pada saat kerja, tetapi sepanjang tahun. "Ini termasuk memperkuat ekspektasi, menjadi panutan kerja secara hybrid, dan mengatasi rendahnya kehadiran sejak dini.”