Jeli pilih alokasi aset

Dalam banyak kesempatan, ada saja kawan dan kerabat yang bertanya mengenai alokasi investasi di pasar modal untuk mereka. Berapa persen sebaiknya investasi dalam saham dan dalam ORI (obligasi negara ritel) dan SR (sukuk ritel)?
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Desember 2010  |  07:52 WIB

Dalam banyak kesempatan, ada saja kawan dan kerabat yang bertanya mengenai alokasi investasi di pasar modal untuk mereka. Berapa persen sebaiknya investasi dalam saham dan dalam ORI (obligasi negara ritel) dan SR (sukuk ritel)?

 

Sebelum adanya ORI dan SR, investor individual di Indonesia yang tertarik dengan obligasi hanya dapat melakukannya melalui reksa dana pendapatan tetap. Namun, sejak diterbitkannya ORI pada 2006 dan SR 3 tahun kemudian, investor ritel dapat melakukannya langsung.

Jika saham berisiko tinggi karena merupakan sekuritas ekuitas, ORI dan SR adalah sekuritas pendapatan tetap yang berisiko rendah. Kesamaannya, semuanya produk pasar modal yang berbeda dengan deposito yang merupakan produk pasar uang.

Perbedaannya, saham memberikan return dalam bentuk dividen, yang biasanya dibayarkan sekali setahun, dan capital gain. Sedangkan ORI dan SR menjanjikan kupon yang dibayarkan bulanan serta kemungkinan capital gain jika terjadi penurunan yield investor akibat semakin rendahnya inflasi dan suku bunga.

Dividen saham akan ada jika perusahaan memperoleh laba dan memutuskan untuk dibagikan. Adapun, capital gain saham terjadi karena adanya laba yang tidak dibagikan dan faktor pertumbuhan perusahaan pada masa depan.

Perusahaan yang rugi tidak akan membagikan dividen dan jika perusahaan itu tidak menjanjikan pertumbuhan, yang akan diperoleh investor adalah capital loss atau penurunan harga saham di pasar.

Berbeda dengan saham, ORI dan SR mempunyai tanggal jatuh tempo, biasanya 3-4 tahun. Jika ORI dan SR dipegang hingga tanggal jatuh tempo, tidak ada risiko perubahan harga karena semua obligasi pemerintah termasuk ORI dan SR pasti dilunasi pada nilai nominal saat jatuh tempo.

Tiga fase investor

Soal alokasi investasi di pasar modal, saya tidak membicarakan jumlah uang dan memiliki dana Rp20 juta saya pikir sudah cukup. Persentase dalam saham dan obligasi yang dianjurkan bergantung pada umur, sikap investor terhadap risiko, dan paradigma investasinya.

Reilly dan Brown dalam bukunya Investment Analysis and Portfolio Management membagi usia investor dalam tiga kelompok yaitu fase akumulasi, fase konsolidasi, dan fase belanja (spending).

Fase akumulasi dimulai saat kekayaan investor masih sedikit atau sekitar usia 25 tahun, fase konsolidasi dimulai pada usia 35-40 tahun, dan fase belanja ketika usia menginjak 60 atau 70 tahun.

Rekomendasi Reilly dan Brown adalah pada fase akumulasi, persentase saham: obligasi sebaiknya 80% : 20%, dan turun menjadi 50% : 50% pada fase konsolidasi, dan terakhir menjadi 100% obligasi pada fase belanja. Ini tentunya dengan asumsi investor bersikap netral terhadap risiko.

Untuk investor yang berani mengambil risiko (risk taker), porsi saham untuk masing-masing fase dapat ditingkatkan 10%-20% menjadi sekitar 90%-100% untuk fase akumulasi dan 60%-70% untuk fase konsolidasi, misalnya.

Sebaliknya investor yang menghindari risiko (risk averter) harus menurunkan porsi saham (menaikkan porsi obligasi) untuk setiap fasenya menjadi 60%-70% saham pada fase akumulasi dan 30%-40% pada fase konsolidasi.

Tiga paradigma investasi

Intinya, sekuritas yang cocok untuk pencinta risiko dengan paradigma investasi maksimalisasi return adalah saham yang harga pasarnya sangat fluktuatif sedangkan untuk yang ingin meminimumkan risiko adalah sekuritas berpendapatan tetap seperti ORI dan SR.

Sementara itu, investor yang takut risiko tetapi ingin menikmati return tinggi dianjurkan mengambil porsi seimbang dalam saham dan obligasi. Portofolio ini ternyata diterapkan Markowitz, sang penemu teori portofolio yang juga pemenang nobel ekonomi.

Walaupun mengakui tingginya return saham dalam jangka panjang, dia hanya menempatkan separuh uangnya dalam aset berisiko ini. Separuhnya lagi dialokasikan dalam obligasi pemerintah dan obligasi korporasi tripel A.

Ketika ditanyakan alasannya, Markowitz hanya menjawab singkat kalau paradigma investasinya adalah minimalisasi penyesalan dan bukan maksimalisasi return atau minimalisasi risiko.

Dengan strategi berimbang ini Markowitz memastikan tidak akan mengalami penyesalan besar soal keputusan investasinya. Jika pasar bullish, dia senang karena separuh portofolionya dalam saham.

Namun, saat pasar bearish, dia juga tidak terlalu bersedih dibandingkan investor dengan paradigma maksimalisasi return, karena obligasi melindunginya dari jatuh miskin.

Sayangnya, persentase alokasi investasi di atas pada praktiknya hanya dilakukan di negara-negara maju yang pasar obligasinya relatif likuid dan sekitar sepertiga penduduknya berinvestasi di pasar modal.

Kondisi ini sangat kontras dengan Indonesia yang investor pasar modalnya hanya sekitar 0,5% dari jumlah penduduk. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menyimpan uang lebihnya dalam deposito.

Padahal bunga deposito selalu lebih rendah daripada kupon ORI atau SR sementara keamanan dan kepastian pengembalian ORI dan SR juga lebih tinggi. Pajak penghasilan atas bunga deposito juga lebih besar yaitu 20% berbanding 15% untuk ORI dan SR sehingga selisih bunga efektif deposito dan ORI (SR) sekitar 2-3% p.a.

Yang juga penting diketahui para kas surplus Indonesia adalah investasi di pasar modal di atas sebaiknya dilakukan setelah Anda mempunyai dana darurat sebesar minimal tiga kali pengeluaran bulanan dan maksimal enam kali, sesuai dengan anjuran Kapoor dalam bukunya Personal Finance.

Dana darurat ini dibentuk untuk memastikan dana yang ditanam dalam pasar modal tidak akan digunakan, paling tidak dalam beberapa tahun ke depan. Dana darurat ini bisa disimpan dalam tabungan atau reksa dana pasar uang.

Kini setelah Anda memahami saham dan obligasi, tiga fase investor, dan tiga paradigma investasi di atas, Anda masih takut menjadi investor pasar modal?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Budi Frensidy

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top